Kamis, 23 Oktober 2008

CATATAN KECIL DARI CINA

Hanya butuh kurang lebih 20 tahun bagi Cina untuk menyesuaikan diri dengan sistem dunia yang kapitalistis. Sebelumnya, negara raksasa yang dijuluki negara tirai bambu ini adalah negara tertutup, dengan sistem pemerintahan komunisnya.

Dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 milyar jiwa, negara ini menguasai hampir semua bentuk perindustrian dunia. Di Shenzhen, kita dengan mudah menemukan pabrik, mulai dari pabrik tusuk gigi sampai pabrik Apple Mac Book, komputer jinjing yang sekarang sedang happening di hampir seluruh belahan bumi.

Di Shenzhen, yang hanya butuh menggunakan moda transportasi MRT (kereta cepat di Cina), untuk menyebrang ke Hong Kong, kondisinya tak jauh beda dengan di Singapura. Turis asing maupun lokal, punya satu tujuan, yaitu shop till drop di pusat perbelanjaan eceran dan grosir Louhou. Kalau menurut penuturan local guide, produk-produk fashion yang baru berumur 4 hari release di Perancis atau Italia, Insya Allah akan kita temui dengan harga "miring" dan masih bisa ditawar di pusat perbelanjaan yang mengingatkan pada pusat perbelanjaan Mangga Dua, Jakarta.

Tapi tidak cuma itu, di Shenzhen, kita dapat menikmati panorama Window of The World (WoW) yang merupakan miniatur dunia. Singkatnya, obyek wisata satu ini, hampir mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), hanya saja obyeknya internasional, sementara TMII yang di bilangan Pondok Gede itu obyeknya hanya berskala nasional. Tidak jauh dari WoW kita dapat menikmati Chinese Folk Dance Live Show di sebuah perkampungan seni yang dilengkapi restoran dan kios-kios cendera mata, tapi sekedar saran saja, pada pertengahan tahun yang pasti sedang musim panas, lebih afdol apabila tarian ini dinikmati di stage outdoor pada malam hari. Namun, jangan khawatir pertunjukan tarian tradisional yang dikoreografi dan dikemas dengan canggih dan spektakuler ini juga dipentaskan di dalam gedung pertunjukan pada siang hari.

GUANGZHOU, GUANGDONG, CANTON

Dengan menumpang bis 1,5 jam, kita dapat melancong ke Guangzhou yang dalam bahasa setempat dilafalkan Guangdong. Sebuah kota besar yang sibuk dengan pelabuhan, kegiatan perdagangan internasional dan hiruk pikuk metropolitannya. Dalam bahasa Inggris, kota ini lebih dikenal dengan sebutan Canton, suku setempat disebut cantonese yang menggunakan bahasa canton dengan struktur bahasa Diterangkan Menerangkannya (DM) semua terbalik seperti struktur bahasa Inggris, sehingga banyak local guide berbahasa mandarin yang bukan berasal dari daerah ini akan mengernyitkan dahi untuk memahami bahasa mereka.

Obyek favorit di kota ini adalah Beijing Lu atau Beijing Road, sebuah mega city square yang luasnya luar biasa. Di pertigaan city square itu, kita masih bisa melihat jalan asli Beijing Road di abad ke 14 yang kurang lebih 5 meter lebih rendah dari jalan paving yang sekarang digunakan. Jalan asli tersebut ditutup lantai kaca, sehingga kita dapat melihat bentuk jalan asli yang terbuat dari batu-batu besar dan batu-batu kecil yang berwarna putih.

Tempat ini juga merupakan surga barang-barang "aspal" seperti halnya di Shenzhen, bedanya barang-barang itu dijual sembunyi-sembunyi. Jadi jangan heran, orang-orang yang berpenampilan "turis banget" tiba-tiba akan dihampiri laki-laki tak dikenal yang menunjukkan foto arloji, tas kulit, dompet dan barang-barang bermerk lainnya. Apabila kita setuju, kita akan diajak ke tangga sempit di antara toko-toko besar di sana, menuju lantai 2, di toko mereka yang sempit dan pengap. Kita akan terheran-heran melihat notebook Sony Vaio merupakan salah satu dagangan yang bisa ditawar dengan metode pasar tradisional. Tapi, tanpa pengetahuan bahasa mandarin yang cukup, hal ini tidak disarankan sama sekali, karena sama halnya seperti di Shenzhen, Guangzhou juga rawan penipuan, copet dan uang palsu. Jadi minta local guide untuk mendampingi, agar kita tidak jadi sasaran empuk kejahatan.

Lain lagi dengan mucikari-mucikari setempat. Mereka dengan agresif menawarkan barang dagangan dengan menggunakan media kartu nama bergambar perempuan-perempuan bugil dengan bahasa Inggris patah-patah. "Young girl, young girl," begitu promosi mereka. Di kartu nama, tertulis apabila mereka siap mengantarkan gadis-gadis pesanan kita ke kamar hotel, tapi lagi-lagi ancaman penipuan membayangi, karena beberapa kasus ketika sang gadis berada di kamar, tiba-tiba seorang laki-laki datang mengaku suami si gadis dan minta pertanggungjawaban dan uang ganti rugi pada tamu yang malang itu.

RIVER TOUR & SEBOTOL ANGGUR

Guilin merupakan kota "kecil" yang penghasilan utamanya berasal dari pariwisata yang berjarak 1 jam penerbangan dari kota Guangzhou. Bayangin aja, danau tengah kota yang pada siang hari "biasa-biasa saja", pada malam hari bisa menjelma menjadi atraksi wisata yang outstanding. Berangkat dari pelabuhan kecil di tengah kota Guilin, turis dimuat di kapal kecil dengan jendela-jendela kaca berukuran besar untuk dapat menikmati panorama pinggiran danau yang asri.

Di awal tur kita disuguhi pemandangan Pagoda Kembar yang berwarna kuning emas dan perak, sementara di pinggir kanan kiri kita dapat menikmati suasana pedestrian yang riuh rendah oleh pasangan muda yang bermesraan atau warga setempat yang sedang berkumpul mendengarkan pemusik jalanan memainkan musik tradisional maupun modern, ataupun warga yang sekedar mengajak jalan-jalan anjing kesayangannya. Selama kurang lebih 1,5 jam kita disuguhi berbagai atraksi yang bisa dilihat sambil duduk santai dan menjepretkan kamera digital, misalnya tarian tradisional yang digelar di panggung apung, lukisan mural di kolong jembatan, desain arsitek jembatan yang konon hasil karya arsitek lokal dan nelayan lokal yang menangkap ikan dengan "bantuan" sejenis burung belibis. Apabila masih belum puas, seorang pengamen dengan setia memainkan musik sesuai permintaan kita selama perjalanan menyusuri danau.

Dengan menumpang bis selama 1 jam ke arah barat, kita juga dapat menyambangi Red Flute Cave atau gua seruling merah yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit. 1 Jam ke arah timur, kita juga bisa mengikuti Li Chiang (Sungai Li) Boat Tour di atas 175 buah kapal yang siap mengajak anda menyusuri sungai Li. Di sini, kapal untuk turis asing dan lokal dipisahkan, maklum di antara salah satu point survey penyelenggaraan Olimpiade 2008 di Beijing, ternyata buruknya budaya penggunaan toilet orang lokal termasuk salah satu yang paling banyak dikeluhkan tamu asing, selain kebiasaan orang Cina meludah di sembarang tempat. Di atas kapal ber AC yang terdiri dari 2 atau 3 lantai, kita dapat menikmati pemandangan pinggiran sungai Li yang asri ditingkahi gunung dan tebing kapur indah yang oleh warga Cina difantasikan mirip dengan berbagai hal, mulai Dewi Kwan Im sampai kuda. Ingin bersantai di geladak kapal sambil mengabadikan momen dengan kamera digital atau duduk-duduk di dalam kabin sambil menikmati sebotol wine Cina yang manis seharga 100 yuan pun bisa menjadi pilihan.

Setelah 2 jam disuguhi suasana pinggiran sungai Li, kita kemudian turun di pasar tradisional Yang Chou yang menjajakan berbagai bentuk cenderamata oriental. Suasana cina tradisional begitu kental di pasar kecil nan padat ini. Tapi jangan heran, apabila kita berbahasa Indonesia dengan teman seperjalanan, kita tiba-tiba akan dihampiri wanita atau pria Cina paruh baya yang akan bertanya apa anda datang dari Indonesia, bahkan tidak jarang mereka minta diajak bicara dalam bahasa Jawa, karena mereka adalah orang-orang Cina yang pernah tinggal lama di Indonesia dan dipulangkan paksa pada era tahun 60an. Mereka tanpan sungkan-sungkan akan bercerita betapa rindunya mereka dengan Indonesia dengan kita orang-orang Indonesia asli. Pada saat seperti ini, kita akan merasa betapa luarbiasanya tanah air kita yang saat ini sedang carut marut. Memang betul apabila neighbor grass was always greener.

PANTAI PASIR PUTIH DAN SATE BUNCIS

Butuh 2 jam perjalanan udara untuk mencapai Beihai, satu-satunya kota pantai di propinsi Guangzhou. Pantai di kota pelabuhan yang sibuk ini disebut Silver Beach karena pantai pasir putihnya yang dahsyat bersihnya. Kita akan teringat pantai Kuta Bali yang indah, namun sayangnya kurang terjaga kebersihannya. Warga setempat tampak sangat disiplin dalam menjaga kebersihan pantai, setiap kelompok turis, khususnya lokal selalu membawa kantong sampah plastik selama berada di pantai.

Setengah jam dari pantai, kita dapat menikmati hidangan laut yang baru saja ditangkap di aquarium-aquarium di Waisha. Restoran yang sebenarnya merupakan pulau kecil terpisah yang dihubungkan dengan sebuah jembatan dari Beihai, menawarkan menu makanan laut dengan pemandangan pinggir laut lepas. Di samping itu, kota Beihai yang berpenduduk 1,5 jiwa praktis merupakan kota "sepi". Di malam hari, kita bisa kongkow-kongkow di warung makan kaki lima yang menyediakan berbagai macam lauk yang di sate, bagaimana tidak buncispun ditusuk menyerupai sate lalu dibakar dengan menggunakan bumbu yang menyerupai bumbu barbeque.

Anak-anak muda di sini doyan keluar malam. Sampai pukul 3 pagi, mereka masih lalu lalang, kebanyakan mengendarai skuter listrik yang cukup berbahaya, bagaimana tidak, apabila kita tidak hati-hati, ketika sedang menyeberang jalan, tiba-tiba kendaraan roda 2 itu sudah berada dekat sekali dengan kita, tanpa lampu pula. Namun, hati-hati untuk muslim, karena hampir semua rumah makan dan warung di Beihai pada khususnya dan Cina pada umumnya hanya menyediakan bir dan teh pahit ala Cina sebagai teman makan. Apabila kita minta air putih, maka kita akan kena extra charge, begitu pula tissue, apabila kita tidak memintanya pada pelayan yang hampir seluruhnya, baik di restoran lokal ataupun hotel internasional, tidak bisa berbahasa lain, selain Mandarin atau bahasa daerah masing-masing.

Meskipun begitu, dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun, Cina mampu memposisikan diri dalam kancah persaingan global. Sementara ironisnya, di Indonesia, yang sebagian besar pelayan, khususnya di hotel-hotel berbintang bisa berbahasa Inggris meskipun patah-patah, kurang siap bersaing dalam kancah persaingan global. Salah siapa?