Rabu, 24 Desember 2008
G TO G, C TO C LALU CITYNET
Mulanya adalah Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), URDI, Millenium Campaign Indonesia dan 9 kota Indonesia, Tomohon, Bandung, Banda Aceh, Tarakan, Balikpapan, Palembang, Gorontalo, Sukabumi dan Pangkal Pinang yang pada 27 Desember 2006 mendeklarasikan pembentukan Citynet Indonesia di Sukabumi dengan konsep C to C cooperation yang merupakan chapter dari Citynet Asia Pasifik.
Citynet pada prinsipnya merupakan media networking antara anggota dan stakeholders untuk bertukar pengalaman, khususnya yang dinilai sebagai best practices. Berbeda dengan Apeksi yang an sich merupakan forum komunikasi bagi institusi local government, Citynet melibatkan juga institusi non government, seperti NGO ataupun perusahaan swasta. Meskipun begitu, proporsi antara institusi pemerintahan dan non pemerintahan dibatasi dengan perbandingan 60% : 40% yang diprioritaskan pada institusi pemerintahan.
Sebagai organisasi, aktifitas Citynet diorientasikan pada upaya capacity building berupa pelayanan, konsultasi, pelatihan teknis, seminar, workshop, orientasi, diskusi, studi banding, penelitian, pertukaran pengalaman dan informasi yang berskala nasional maupun internasional. Di bidang networking, Citynet Indonesia memprakarsai hubungan internasional dengan anggota-anggota Citynet Asia Pasifik dan organisasi-organisasi internasional.
Dengan format seperti itu, Citynet membuka akses dua arah yang luas kepada institusi pemerintahan dan non pemerintahan untuk saling bertukar informasi dengan komunitas lain pada level nasional maupun internasional. Yang unik dari Citynet adalah pada saat bentuk-bentuk kerjasama G to G ataupun C to C didominasi oleh kepentingan ekonomi yang cenderung kapitalistik, Citynet lebih menawarkan alter conciousness seperti Millenium Development Goals (MDG’s).
Dengan sendirinya, C to C cooperation pada level nasional maupun internasional yang dilakukan cenderung mengedepankan bidang-bidang social semacam pendidikan murah, permukiman murah, pelayanan kesehatan murah yang ultimate goalnya adalah mengurangi pertumbuhan populasi rakyat miskin di seluruh Indonesia maupun dunia. Dan salah satu cara yang paling sering ditempuh oleh Citynet Indonesia adalah dengan “mengawinkan” kota, lembaga maupun perusahaan di Indonesia dengan kota, lembaga maupun perusahaan lain pada chapter Citynet Asia Pasifik.
DUA TAHUN CITYNET INDONESIA
Menginjak 2 tahun eksistensi Citynet yang memang belum terlalu popular bagi masyarakat Indonesia, kepengurusan Citynet meloloskan kota Semarang dan Kota Banjar sebagai anggota terbungsu pada Rapat Kepengurusan di Hotel Borobudur Jakarta, 22 Desember 2008 yang dihadiri Duta Besar MDG’s Asia Pasifik, Erna Witoelar yang merangkap Ketua Pengawas Citynet Indonesia. AD/ ART Citynet Indonesiapun juga mengalami perubahan, khususnya pada klausul-klausul persyaratan keanggotan baru yang didesain untuk memudahkan kota-kota, bahkan kabupaten-kabupaten lain di Indonesia untuk bergabung dan menghapus kesan eksklusif pada Citynet Indonesia.
Selama setahun ke depan Citynet Indonesia juga telah menyusun program kerja berupa Sustainable Training Program sebagai bentuk shared best practice setiap 4 bulan sekali dengan lokasi kota Tomohon dalam bidang ekonomi kreatif, kota Banda Aceh dalam bidang pemberdayaan perempuan dan kota Tarakan dalam bidang pengelolaan Rumah Sakit Umum Daerah dan Puskesmas. Pada level internasional, seluruh anggota Citynet Indonesia juga akan berkesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan Citynet Asia Pasifik yang akan diselenggarakan di Malaysia, India, Australia dan Jepang.
Setelah pada tahun ini Citynet mengkampayekan gerakan Stand Up and Take Action against poverty yang melibatkan tokoh agama dan pelajar, tahun depan Citynet akan menyusun pelaporan pencapaian MDG’s untuk meneruskan upaya-upaya tersebut pada level berikutnya yang lebih nyata, teknis dan sistematik.
Sabtu, 15 November 2008
PERTIWI YANG ASING
Arrival gate tidak terlalu jauh, dalam waktu 5 menit saya sudah terlibat pembicaraan “bisnis” dengan seorang supir taksi bandara. 50 ribu perak harus saya keluarkan untuk mengupahnya, apabila saya tidak mau berbagi taksi dengan orang lain dan memutuskan menggunakan argometer. Ya, seperti angkot, umpat dalam hati. Tapi terik siang yang melelahkan, membuat saya lebih rela kehilangan 50 ribu demi membeli privasi, sekaligus kesempatan bertanya-tanya pada si supir taksi asli Padang yang keramahannya cukup membayar rasa kesal karena harus merelakan 50 ribu rupiah pada menit-menit awal saya di Batam.
Jalan-jalan di Batam besar dan penataannya mengingatkan saya pada Singapura, negara yang hanya berjarak 45 menit pelayaran kapal ferry dari Batam. Bandara Hang Nadimpun sebagian besar dipadati turis Indonesia yang berniat melancong ke Singapura lewat jalur laut dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan apabila menggunakan jalur udara. Jalan mulai menyempit di pusat-pusat keramaian kota, seperti pada kawasan Nagoya yang terkenal dengan barang-barang dagangan bermerk mulai dari yang “paling” palsu sampai dengan yang sangat mirip dengan aslinya.
Jam tangan, tas, sepatu, dompet, kacamata, parfum dari merk-merk terkenal dapat didapatkan di Nagoya. Di sini jangan buru-buru terkesiap mendengar harga jutaan rupiah untuk setiap barang yang ditawarkan, karena kita boleh menawar sampai separuh harga. Semua harga relatif, tergantung seberapa gigih kita sanggup menawar. Bahkan, di toko Sarinah atau Diana yang melengkapi setiap produk yang dibeli dengan “sertifikat keaslian”, kita masih boleh menawar. Sayangnya suasana belanja terasa tidak nyaman dengan banyaknya pengemis anak-anak yang dengan “nasty” menguntit turis, bahkan dengan menyebalkannya mereka menyodok-nyodok dengan menggunakan formulir isian sumbangan usang yang sudah dilaminating, “kasih pak, kasih pak,” ceracau mereka seperti rekaman mp3 rusak.
Nafas kehidupan malam sangat pekat pada hotel-hotel, baik berbintang maupun tidak berbintang di seputar kawasan Nagoya. Hampir 24 jam kawasan ini berputar mengolah rupiah maupun dollar Singapura dari turis lokal maupun asing yang sengaja ingin mencicipi kehidupan malam ala Batam. Namun, meskipun masih berada di wilayah hukum Indonesia, perempuan-perempuan Cingko, sebutan perempuan penghibur Batam yang performa fisiknya sangat mirip dengan perempuan Cina akan pasang tarif rata-rata 300 dollar Singapura, baik pada turis lokal maupun asing. Sudah serasa di Singapura bukan? Bahkan, di kawasan “lampu merah” Geylang di Singapura, yang kebanyakan dihuni perempuan Thailand atau Vietnam, tarif yang ditawarkan “hanya” 50 dollar Singapura per setengah jam layanan.
Kengerian di Pulau Galang
Satu jam yang melelahkan ke arah Barat pulau Batam melewati Jembatan Barelang dan empat jembatan lainnya, Saya menuju pulau yang mulanya terpisah dari pulau Batam. Pulau kecil dengan luasan yang berkisar hanya ratusan hektar ini pada era 90an sempat digunakan untuk menampung pengungsi korban perang Vietnam yang dulu lebih dikenal sebagai “manusia perahu”. Konon pulau kecil ini dulu menampung kaum terpelajar Vietnam yang teraniaya dan diusir dari tanah airnya, karena kekejaman rezim komunis yang pada waktu itu berkuasa pasca kekalahan Amerika Serikat di kancah perang Vietnam. Pulau hijau itu sampai sekarang masih menyisakan keindahan hutan belukar, kontur yang variatif dan sebuah pagoda yang bertengger di puncak bukit pulau itu.
Tur yang penuh kesuraman dan kesedihan itu, hanya ditebus dengan 15 ribu rupiah apabila menggunakan mobil dan 5 ribu rupiah apabila menggunakan sepeda motor. Tak jauh dari pintu gerbang, kengerian akan penderitaan pengungsian dapat tergambar dari bangkai perahu-perahu kayu yang teronggok bagai monumen di sebuah taman yang begitu pilu, liar tak terpelihara. Berapa ribu kilometer penderitaan dan kesedihan yang harus dilewati untuk meminta belas kasihan dari bangsa lain, agar mereka dapat terhindar dari praktek genosida tanpa ampun di kampung halaman mereka sendiri. Sungguh kengerian yang tak berperi.
Dari jumlah bekas barak dan fasilitas umum, seperti rumah sakit, youth center, pemakaman sampai penjara, tampaknya mereka tidak hanya berpuluh, bahkan mungkin ratusan dan sempat beranak pinak di pulau ini sampai akhirnya didistribusikan ke negara-negara lain atau dikembalikan ke Vietnam oleh UNHCR, karena kondisi negara mereka yang dewasa ini termasuk yang paling pesat kemajuannya untuk ukuran Asia Tenggara. Suatu kebahagiaan ironik, mengingat mereka harus bersakit-sakit menumpang perahu kayu menuju Indonesia yang saat ini kondisinya justru tertinggal jauh oleh mereka.
Asing di Negeri Sendiri
Perut yang melilit karena lapar disertai mata yang berat digelayuti kantuk tak menahan saya untuk menempuh perjalanan darat selama satu jam ke arah timur pulau Batam menuju penyeberangan kapal yang membawa saya ke Pulau Bintan. Saya beruntung, tidak datang 5 atau 7 tahun sebelumnya, karena pada saat itu kemolekan Pulau Bintan, paling dekat hanya ditawarkan ke Singapura. Orang lokal seperti saya, harus mencarter kapal sendiri untuk dapat menyeberang. Sebagai gantinya saat ini, hanya 3 jadwal saja yang disediakan oleh pengelola pulau yang konon berasal dari Singapura, untuk melayani turis lokal. Jam 7.30, 14.30 dan 18.00. Selebihnya dipadati oleh kapal-kapal yang berasal dari Singapura.
Dari pelabuhan, di tengah dinginnya semilir angin pagi lautan. Setengah jam kemudian saya telah bersiap dalam sebuah life vest warna jingga untuk mengikuti wisata menyusuri hutan bakau menggunakan kapal kayu berkapasitas 10 orang. Menyusuri ratusan hektar hutan bakau, sang tour leader yang masih cukup muda akan menunjukkan bangkai kapal penambang pasir Singapura yang dulunya hilir mudik Batam – Singapura untuk mengambil pasir yang digunakan untuk memperluas daratan Negara Singapura yang luasnya tak seberapa itu. Sekarang butiran-butiran pasir itu sudah menjadi warga negara Singapura dan mengukuhkan daerah perkotaan modern baru di Singapura yang disebut Suntek City. Sebelum menuntaskan tur selama kurang lebih 1,5 jam, perahu kayu akan masuk di sela-sela kerimbunan hutan bakau di ujung timur. Ular, biawak, burung, tupai menjadi pemandangan luar biasa yang mengubah turis “lembek” serasa sebagai reporter senior National Geographic Chanel.
Satu jam dari hutan bakau ke arah utara, ada Pantai Mana-Mana yang mirip Pantai Kuta Bali minus sampah yang bertebaran di pantai. Pantai pasir putih nan bersih itu, sebenarnya membentang di sepanjang pulau Bintan, namun sayangnya hanya sekitar 100 sampai 200 meter saja yang bisa dinikmati oleh umum, karena selebihnya dijadikan kawasan pribadi oleh Bintan Laguna, hotel bintang lima yang paling ramai di sana. Kebanyakan hotel di sini selain menawarkan kamar, juga menawarkan villa yang berisi 4 kamar dengan rate kurang lebih 3 jutaan semalam dengan harga penawaran, apalagi kalau tidak dalam dollar Singapura. Hebatnya lagi, saya yang sempat 2 kali belanja suvenir di sini seringkali keliru disangka orang Malaysia atau orang Singapura, entah karena perawakan saya atau karena turis Indonesia dianggap tidak prospektif mengunjungi pulau ini.
Dininya keberangkatan membuat kondisi fisik melemah tajam, bahkan angin di perut telah menghambat suplai oksigen ke otak. Saya akhirnya memutuskan makan siang di Pasar Cenderamata atas saran local guide yang sangat mengerti betul kondisi kocek orang Indonesia, meskipun ia yang asli Medan lebih sering hidup di Singapura ketimbang di Indonesia. Betul saja, di resto seafood itu, saya disambut dalam sapaan bahasa Inggris yang ramah, karena bahasa pengantar di seluruh Bintan memang bahasa Inggris. Luar biasa, dengan menu ala carte Bintan Laguna, saya dapat menghemat kurang lebih 20 dollar Singapura, karena apabila tak sabar, bisa dipastikan saya harus membayar ongkos makan siang yang sama kurang lebih 40 dollar Singapura di resto Bintan Laguna. Sambil menyeruput teh botol dingin, saya memandangi rombongan turis entah dari Jepang entah dari Singapura yang sempat berpapasan saat berada di kolam renang Bintan Laguna sebelumnya, sekarang mereka baru hendak masuk resto tempat saya makan siang. Satu jam lagi saya kembali ke Batam, dengan perasaan campur aduk. Takjub dengan kemolekan pulau Bintan dan pantai Mana-Mana. Saya sekaligus mengumpat dalam hati, karena barusan si waitress Indonesia dengan fasih berkata, “Thank you sir, please welcome again.” “Terima kasih mbak, Saya orang Indonesia,” ujar saya yang memerah padamkan muka sang waitress yang buru-buru menyambung dengan bahasa Indonesia. Betapa terasingnya kita di negeri sendiri. Saya tiba-tiba jadi ingat anekdot teman saya, “jangan-jangan Batam lama-lama jadi salah satu kecamatannya Singapura lagi,” ujarnya sambil tersenyum kecut.
Kamis, 06 November 2008
malam suatu ketika
dimana temaram melangkah di tengah terang benderang celoteh berucap
kegelapan berwarna semburat beraneka cahaya pendar yang melukiskan lelah penghuninya
gegap gempita kepekatan yang merayu pengelana gontai karena birahi ketidaktahuan
wujudnya yang kokoh, angkuh mengangkangi kala nan berputar-putar searah senja dan fajar hari
berdesis-desis bagaikan ular betina nyalang yang geliatnya tak pernah lekang oleh gentar
malam suatu ketika...
seorang sahabat yang tak pernah ada untuk bersenda dikelilingi asap rokok dan secangkir kopi pahit
sahabat terkasih yang selalu di sana untuk berkeluh berkesah dan meracau tentang bingarnya dunia
betina elok yang tidur terlelap tergolek diam dalam putihnya hening di simpang jalan
seorang gadis kecil lincah yang menari di atas hamparan gelapnya kilatan lampu penerangan jalan
seorang ibu yang terpekur seru dalam ramainya sunyi yang membekap seluruh fana
bapak yang renta oleh gemerincing kegelapan yang beradu dengan debu jalanan
malam suatu ketika...
saat lelap dengan tekun melantunkan nada kegamangan
saat sayu berderap-derap di bawah siraman cahaya gelap temaram sudut kamar
saat penat melaju deras ratusan kilometer di ruas jalanan lingkar menuju perbatasan
garis batas antara semarak warna kegelapan dan temaramnya fajar
aku lelah dan meringkuk terlelap dalam dekapan cerah malam
batam, 061108, 2322
Kamis, 23 Oktober 2008
CATATAN KECIL DARI CINA
Hanya butuh kurang lebih 20 tahun bagi Cina untuk menyesuaikan diri dengan sistem dunia yang kapitalistis. Sebelumnya, negara raksasa yang dijuluki negara tirai bambu ini adalah negara tertutup, dengan sistem pemerintahan komunisnya.
Dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 milyar jiwa, negara ini menguasai hampir semua bentuk perindustrian dunia. Di Shenzhen, kita dengan mudah menemukan pabrik, mulai dari pabrik tusuk gigi sampai pabrik Apple Mac Book, komputer jinjing yang sekarang sedang happening di hampir seluruh belahan bumi.
Di Shenzhen, yang hanya butuh menggunakan moda transportasi MRT (kereta cepat di Cina), untuk menyebrang ke Hong Kong, kondisinya tak jauh beda dengan di Singapura. Turis asing maupun lokal, punya satu tujuan, yaitu shop till drop di pusat perbelanjaan eceran dan grosir Louhou. Kalau menurut penuturan local guide, produk-produk fashion yang baru berumur 4 hari release di Perancis atau Italia, Insya Allah akan kita temui dengan harga "miring" dan masih bisa ditawar di pusat perbelanjaan yang mengingatkan pada pusat perbelanjaan Mangga Dua, Jakarta.
Tapi tidak cuma itu, di Shenzhen, kita dapat menikmati panorama Window of The World (WoW) yang merupakan miniatur dunia. Singkatnya, obyek wisata satu ini, hampir mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), hanya saja obyeknya internasional, sementara TMII yang di bilangan Pondok Gede itu obyeknya hanya berskala nasional. Tidak jauh dari WoW kita dapat menikmati Chinese Folk Dance Live Show di sebuah perkampungan seni yang dilengkapi restoran dan kios-kios cendera mata, tapi sekedar saran saja, pada pertengahan tahun yang pasti sedang musim panas, lebih afdol apabila tarian ini dinikmati di stage outdoor pada malam hari. Namun, jangan khawatir pertunjukan tarian tradisional yang dikoreografi dan dikemas dengan canggih dan spektakuler ini juga dipentaskan di dalam gedung pertunjukan pada siang hari.
GUANGZHOU, GUANGDONG, CANTON
Dengan menumpang bis 1,5 jam, kita dapat melancong ke Guangzhou yang dalam bahasa setempat dilafalkan Guangdong. Sebuah kota besar yang sibuk dengan pelabuhan, kegiatan perdagangan internasional dan hiruk pikuk metropolitannya. Dalam bahasa Inggris, kota ini lebih dikenal dengan sebutan Canton, suku setempat disebut cantonese yang menggunakan bahasa canton dengan struktur bahasa Diterangkan Menerangkannya (DM) semua terbalik seperti struktur bahasa Inggris, sehingga banyak local guide berbahasa mandarin yang bukan berasal dari daerah ini akan mengernyitkan dahi untuk memahami bahasa mereka.
Obyek favorit di kota ini adalah Beijing Lu atau Beijing Road, sebuah mega city square yang luasnya luar biasa. Di pertigaan city square itu, kita masih bisa melihat jalan asli Beijing Road di abad ke 14 yang kurang lebih 5 meter lebih rendah dari jalan paving yang sekarang digunakan. Jalan asli tersebut ditutup lantai kaca, sehingga kita dapat melihat bentuk jalan asli yang terbuat dari batu-batu besar dan batu-batu kecil yang berwarna putih.
Tempat ini juga merupakan surga barang-barang "aspal" seperti halnya di Shenzhen, bedanya barang-barang itu dijual sembunyi-sembunyi. Jadi jangan heran, orang-orang yang berpenampilan "turis banget" tiba-tiba akan dihampiri laki-laki tak dikenal yang menunjukkan foto arloji, tas kulit, dompet dan barang-barang bermerk lainnya. Apabila kita setuju, kita akan diajak ke tangga sempit di antara toko-toko besar di sana, menuju lantai 2, di toko mereka yang sempit dan pengap. Kita akan terheran-heran melihat notebook Sony Vaio merupakan salah satu dagangan yang bisa ditawar dengan metode pasar tradisional. Tapi, tanpa pengetahuan bahasa mandarin yang cukup, hal ini tidak disarankan sama sekali, karena sama halnya seperti di Shenzhen, Guangzhou juga rawan penipuan, copet dan uang palsu. Jadi minta local guide untuk mendampingi, agar kita tidak jadi sasaran empuk kejahatan.
Lain lagi dengan mucikari-mucikari setempat. Mereka dengan agresif menawarkan barang dagangan dengan menggunakan media kartu nama bergambar perempuan-perempuan bugil dengan bahasa Inggris patah-patah. "Young girl, young girl," begitu promosi mereka. Di kartu nama, tertulis apabila mereka siap mengantarkan gadis-gadis pesanan kita ke kamar hotel, tapi lagi-lagi ancaman penipuan membayangi, karena beberapa kasus ketika sang gadis berada di kamar, tiba-tiba seorang laki-laki datang mengaku suami si gadis dan minta pertanggungjawaban dan uang ganti rugi pada tamu yang malang itu.
RIVER TOUR & SEBOTOL ANGGUR
Guilin merupakan kota "kecil" yang penghasilan utamanya berasal dari pariwisata yang berjarak 1 jam penerbangan dari kota Guangzhou. Bayangin aja, danau tengah kota yang pada siang hari "biasa-biasa saja", pada malam hari bisa menjelma menjadi atraksi wisata yang outstanding. Berangkat dari pelabuhan kecil di tengah kota Guilin, turis dimuat di kapal kecil dengan jendela-jendela kaca berukuran besar untuk dapat menikmati panorama pinggiran danau yang asri.
Di awal tur kita disuguhi pemandangan Pagoda Kembar yang berwarna kuning emas dan perak, sementara di pinggir kanan kiri kita dapat menikmati suasana pedestrian yang riuh rendah oleh pasangan muda yang bermesraan atau warga setempat yang sedang berkumpul mendengarkan pemusik jalanan memainkan musik tradisional maupun modern, ataupun warga yang sekedar mengajak jalan-jalan anjing kesayangannya. Selama kurang lebih 1,5 jam kita disuguhi berbagai atraksi yang bisa dilihat sambil duduk santai dan menjepretkan kamera digital, misalnya tarian tradisional yang digelar di panggung apung, lukisan mural di kolong jembatan, desain arsitek jembatan yang konon hasil karya arsitek lokal dan nelayan lokal yang menangkap ikan dengan "bantuan" sejenis burung belibis. Apabila masih belum puas, seorang pengamen dengan setia memainkan musik sesuai permintaan kita selama perjalanan menyusuri danau.
Dengan menumpang bis selama 1 jam ke arah barat, kita juga dapat menyambangi Red Flute Cave atau gua seruling merah yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit. 1 Jam ke arah timur, kita juga bisa mengikuti Li Chiang (Sungai Li) Boat Tour di atas 175 buah kapal yang siap mengajak anda menyusuri sungai Li. Di sini, kapal untuk turis asing dan lokal dipisahkan, maklum di antara salah satu point survey penyelenggaraan Olimpiade 2008 di Beijing, ternyata buruknya budaya penggunaan toilet orang lokal termasuk salah satu yang paling banyak dikeluhkan tamu asing, selain kebiasaan orang Cina meludah di sembarang tempat. Di atas kapal ber AC yang terdiri dari 2 atau 3 lantai, kita dapat menikmati pemandangan pinggiran sungai Li yang asri ditingkahi gunung dan tebing kapur indah yang oleh warga Cina difantasikan mirip dengan berbagai hal, mulai Dewi Kwan Im sampai kuda. Ingin bersantai di geladak kapal sambil mengabadikan momen dengan kamera digital atau duduk-duduk di dalam kabin sambil menikmati sebotol wine Cina yang manis seharga 100 yuan pun bisa menjadi pilihan.
Setelah 2 jam disuguhi suasana pinggiran sungai Li, kita kemudian turun di pasar tradisional Yang Chou yang menjajakan berbagai bentuk cenderamata oriental. Suasana cina tradisional begitu kental di pasar kecil nan padat ini. Tapi jangan heran, apabila kita berbahasa Indonesia dengan teman seperjalanan, kita tiba-tiba akan dihampiri wanita atau pria Cina paruh baya yang akan bertanya apa anda datang dari Indonesia, bahkan tidak jarang mereka minta diajak bicara dalam bahasa Jawa, karena mereka adalah orang-orang Cina yang pernah tinggal lama di Indonesia dan dipulangkan paksa pada era tahun 60an. Mereka tanpan sungkan-sungkan akan bercerita betapa rindunya mereka dengan Indonesia dengan kita orang-orang Indonesia asli. Pada saat seperti ini, kita akan merasa betapa luarbiasanya tanah air kita yang saat ini sedang carut marut. Memang betul apabila neighbor grass was always greener.
PANTAI PASIR PUTIH DAN SATE BUNCIS
Butuh 2 jam perjalanan udara untuk mencapai Beihai, satu-satunya kota pantai di propinsi Guangzhou. Pantai di kota pelabuhan yang sibuk ini disebut Silver Beach karena pantai pasir putihnya yang dahsyat bersihnya. Kita akan teringat pantai Kuta Bali yang indah, namun sayangnya kurang terjaga kebersihannya. Warga setempat tampak sangat disiplin dalam menjaga kebersihan pantai, setiap kelompok turis, khususnya lokal selalu membawa kantong sampah plastik selama berada di pantai.
Setengah jam dari pantai, kita dapat menikmati hidangan laut yang baru saja ditangkap di aquarium-aquarium di Waisha. Restoran yang sebenarnya merupakan pulau kecil terpisah yang dihubungkan dengan sebuah jembatan dari Beihai, menawarkan menu makanan laut dengan pemandangan pinggir laut lepas. Di samping itu, kota Beihai yang berpenduduk 1,5 jiwa praktis merupakan kota "sepi". Di malam hari, kita bisa kongkow-kongkow di warung makan kaki lima yang menyediakan berbagai macam lauk yang di sate, bagaimana tidak buncispun ditusuk menyerupai sate lalu dibakar dengan menggunakan bumbu yang menyerupai bumbu barbeque.
Anak-anak muda di sini doyan keluar malam. Sampai pukul 3 pagi, mereka masih lalu lalang, kebanyakan mengendarai skuter listrik yang cukup berbahaya, bagaimana tidak, apabila kita tidak hati-hati, ketika sedang menyeberang jalan, tiba-tiba kendaraan roda 2 itu sudah berada dekat sekali dengan kita, tanpa lampu pula. Namun, hati-hati untuk muslim, karena hampir semua rumah makan dan warung di Beihai pada khususnya dan Cina pada umumnya hanya menyediakan bir dan teh pahit ala Cina sebagai teman makan. Apabila kita minta air putih, maka kita akan kena extra charge, begitu pula tissue, apabila kita tidak memintanya pada pelayan yang hampir seluruhnya, baik di restoran lokal ataupun hotel internasional, tidak bisa berbahasa lain, selain Mandarin atau bahasa daerah masing-masing.
Meskipun begitu, dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun, Cina mampu memposisikan diri dalam kancah persaingan global. Sementara ironisnya, di Indonesia, yang sebagian besar pelayan, khususnya di hotel-hotel berbintang bisa berbahasa Inggris meskipun patah-patah, kurang siap bersaing dalam kancah persaingan global. Salah siapa?
Jumat, 19 September 2008
CITA RASA BARU SEMARANG PESONA ASIA
Semarang Pesona Asia (SPA) merupakan city branding ataupun upaya pencitraan Kota Semarang yang coba ditanamkan di kota Semarang sendiri dan disosialisasikan secara nasional dan internasional, paling tidak untuk kawasan Asia. SPA mulai diperkenalkan oleh Pemerintah Kota Semarang pada bulan Agustus 2007, di hadapan Presiden RI dan kurang lebih Duta Besar negara asing dari seluruh penjuru dunia.
Konsepsi dasar dari penyelenggaraan SPA pada prinsipnya merupakan mixture atau perpaduan antara promosi investasi dan promosi potensi Kota Semarang. Pola pikir yang digunakan adalah, upaya investasi atau penanaman modal adalah upaya yang tujuan utamanya adalah menarik modal ke kota Semarang agar secara "tidak langsung" dapat mendukung pertumbuhan kota, baik secara fisik maupun mental. Untuk mendukung upaya tersebut, maka Pemerintah Kota Semarang melibatkan seluruh potensi kota untuk turut serta memberi kontribusi dalam bentuk added value pada potensi maupun peluang investasi di kota Semarang.
Sementara itu, bidang investasi sendiri menjadi pilihan utama, karena di era penyelenggaraan good governance yang lebih mengedepankan prinsip "steering rather than rowing", institusi pemerintahan cenderung mendudukkan diri sebagai fasilitator maupun fasilitator upaya pembangunan dengan masyarakat atau institusi non pemerintahan sebagai pemeran utamanya. Bidang investasi memberikan peluang yang sangat besar kepada pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam berperan dalam pembangunan, baik dalam bentuk investasi langsung dalam kerjasama pengelolaan aset pemerintah, ataupun sebagai fasilitator dan mediator bagi pemilik modal dengan berbagai potensi kota Semarang.
Di bidang pemanfaatan aset pemerintah – pun, Pemerintah Kota Semarang dapat mengefisienkan anggaran, di mana biaya pengelolaan dan pemeliharaan aset pada umumnya relatif besar dengan hasil yang tidak sepadan, maka dengan upaya investasi yang ideal, aset pemerintah dapat dioptimalkan, sehingga dapat mendatangkan income bagi pemerintah dan added value bagi masyarakat, sekaligus mengefisienkan anggaran secara signifikan.
Di samping itu, di sisi sosial, sebagian besar upaya investasi juga mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang relatif besar (sampai Tahun 2007, ± 3.957 tenaga kerja), sehingga secara tidak langsung juga dapat meningkatkan pendapatan perkapita yang pada akhirnya juga mempengaruhi peningkatan indeks perekonomian kota secara makro. Singkatnya, bidang investasi merupakan upaya pembangunan yang, saat ini, dinilai paling mungkin dan paling signifikan dalam menimbulkan multiplier effect, baik dari segi ekonomi maupun sosial.
SEMARANG PESONA ASIA 2009 DAN 2010
Pada tahun 2007, city branding Semarang Pesona Asia (SPA) atau secara internasional, diterjemahkan menjadi Semarang, The Beauty of Asia. Sampai dengan pelaksanaan pada Bulan Mei tahun 2008, belum dilakukan segmentasi dan fragmentasi khusus pada kampanye city branding SPA.
Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang mulai menentukan fragmentasi SPA di masa yang akan datang. Fragmentasi dalam terminologi promotion campaign, sangat penting, karena dengan penentuan segmen pasar dan penentuan tema maupun sub tema, maka perhitungan waktu, biaya dan tenaga dapat dilakukan seefisien mungkin dengan estimasi hasil yang seefektif mungkin.
Prinsipnya, daripada harus mengeluarkan biaya promosi dan publikasi besar yang ditujukan kepada audiens yang besar dengan hasil yang tidak sepadan, lebih baik membatasi biaya promosi dan publikasi kepada audiens yang kecil, namun mampu menghasilkan keuntung ekonomis dan sosial yang signifikan bagi kota Semarang. Namun, penentuan segmentasi dan fragmentasi – pun harus dilakukan dengan cara yang komprehensif. Artinya, perlu disusun skala prioritas dari titik berat pelaksanaan SPA sesuai dengan laporan pelaksanaan SPA sebelumnya. Dengan demikian, maka segmen dan fragmen yang dipilih untuk pelaksanaan SPA selanjutnya benar-benar tepat sasaran dan mampu mendorong peningkatan upaya penanaman modal pada bidangnya masing-masing.
Meningkatnya minat wisatawan lokal maupun internasional terhadap kota Semarang yang dapat dilihat pada pertumbuhan pembangunan hotel berbintang di kota Semarang tiga tahun ke depan, menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata merupakan bidang yang layak untuk diprioritaskan. Oleh karena itu, maka penyelenggaraan SPA tahun 2009 dan 2010 lebih diutamakan pada promosi investasi di bidang pariwisata.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Kota Semarang telah menentukan Tema atau Tag Line penyelenggaraan SPA 2009 dan 2010, yaitu : "VISIT SEMARANG YEAR 2010". Secara umum penyelenggaraan SPA 2009 dan 2010 tidak banyak berbeda dengan apa yang pernah dilakukan pada tahun 2007 dan 2008, namun secara khusus SPA 2009 dan 2010 akan menitikberatkan pada peningkatan jumlah pengunjung kota Semarang yang diprioritaskan pada kunjungan wisata, di samping kunjungan lain di luar tujuan wisata.
Secara khusus, Semarang Business Forum (Sem'Biz), forum investasi interaktif se – Jawa Tengah yang selalu diselenggarakan dalam SPA akan dititikberatkan pada transaksi investasi pada bidang usaha pariwisata, setelah pada tahun sebelumnya mampu membukukan transaksi investasi sebesar 10,1 trilyun rupiah yang sebagian besar pada bidang infrastruktur.
Di samping itu, upaya tersebut juga akan didukung dengan program promosi pariwisata yang serentak dan terpadu dari tahun 2009 sampai 2010. Semua usaha dan pelaku pariwisata kota Semarang, termasuk warga kota Semarang akan menyelenggarakan program promosi dalam waktu bersamaan. Secara terpadu, seluruh usaha dan pelaku pariwisata akan diarahkan untuk menyelenggarakan program promosi yang saling mendukung satu sama lain agar dapat memberikan kemasan wisata yang bercitarasa internasional, paling tidak di level Asia.
KOTA SEMARANG MENUJU PRO INVESTASI
Setelah sempat "terpental" dari peringkat 10 besar Kota Pro Investasi, alias kota yang dinilai "ramah" kepada para penanaman modal, Kota Semarang tahun ini berhasil mendudukkan diri di peringkat Juara Harapan I. Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dalam rangka peringatan Hari Jadi Propinsi Jawa Tengah itu, tahun ini berhasil diraih oleh Pemerintah Kota Surakarta yang dinilai oleh juri yang terdiri dari pelaku usaha dan akademisi sebagai kota yang paling "ramah" terhadap investasi.
Satu lagi prestasi membanggakan bagi warga kota Semarang. Namun, terminologi investasi atau penanaman modal bukanlah merupakan istilah populer di telinga kita. Apalagi dengan komponen-komponen utamanya. Namun, hal ini tentu saja dapat dimaklumi, mengingat penghargaan di bidang investasi tidak "seawam" penghargaan Adipura yang berkaitan dengan kebersihan kota.
Tidak populer bukan berarti tidak penting. Justru banyak kota maju yang salah satu komponen kemajuannya ditentukan dari tingkat keberhasilan investasinya. Logikanya, apabila dana investasi atau penanaman modal yang murni berasal dari warga masyarakat ataupun sumber dana lain Non APBD, maka dapat dipastkan bahwa pembangunan kota dapat dilakukan tanpa harus menggantungkan diri pada pemerintah semata-mata.
Di samping itu, investasi merupakan salah satu geliat ekonomi yang paling mampu menimbulkan multiplier effect, selain aktifitas ekonomi lainnya. Bagaimana tidak, apabila sebuah perusahaan mendirikan pabrik, maka selain akan menyerap angkatan kerja, maka akan terjadi peningkatan nilai ekonomis aset. Belum lagi, meningkatnya cash flow, yang dapat menguntungkan lembaga-lembaga keuangan.
Namun, apapun alasan, hipotesa ataupun postulat yang telah dibeberkan sebelumnya belum cukup memberi acknowledgement, bagi "kita", warga kota yang awam terhadap terminologi investasi. Apa yang membuat kita dinilai sebagai Juara Harapan I untuk kota yang "ramah" investasi? What have we do to deserve it? Begitu mungkin, pertanyaan besar kita.
Untuk itu, masyarakat harus tahu, bahwa penghargaan yang lebih dikenal sebagai Pro Investasi Award itu bukan datang dengan sendirinya alias taken for granted, sehingga kita tidak merasakan betapa pentingnya masalah investasi bagi kota tercinta kita. Untuk memberi gambaran jelas mengenai hal itu, maka kita seyogyanya mengetahui Kebijakan Pemerintah Kota Semarang yang berkaitan erat dengan upaya "ramah" Investasi.
One Stop Service (OSS)
OSS atau Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan sistem pelayanan perijinan yang singkatnya dimulai di satu kantor dan diselesaikan di kantor yang sama pula, tanpa harus melalui birokrasi yang panjang dan "berliku". Pengertian tersebut saat ini juga masih ditambah dengan faktor kecepatan waktu pelayanan yang ditetapkan dalam peraturan khusus yang disebut Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Dukungan Kepala Daerah dalam hal ini sangat vital, oleh karena itu mulai tanggal 1 Agustus 2007 Walikota Semarang telah mendelegasikan wewenang penandatanganan 52 jenis Perijinan dan Non Perijinan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemberdayaan BUMD & Aset Daerah (BKPM PB & A) Kota Semarang melalui SK Walikota Semarang No. 875.1/216. Beberapa jenis perijinanpun "digratiskan" agar dapat mempermudah upaya peningkatan pelayanan perijinan, misalnya ijin lokasi, ijin prinsip, SIUP dan ijin-ijin kesehatan.
Dari segi teknologi, pelayanan perijinan kota Semarang telah memanfaatkan kecanggihan Teknologi Informasi (TI). Pada anggaran tahun inipun aspek TI pelayanan perijinan dikembangkan sedemikian rupa untuk "memanjakan" masyarakat pemohon ijin, sehingga pelayanan perijinan nantinya akan dapat diakses masyarakat cukup dengan layanan pesan singkat (SMS).
DPRD Kota Semarangpun tidak mau ketinggalan dalam mendukung OSS melalui penyiapan Peraturan Daerah tentang Penanaman Modal di Kota Semarang dan Peraturan Daerah mengenai Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu, agar pelayanan perijinan mendapat jaminan hukum yang lebih pasti.
KEBIJAKAN PENDUKUNG INVESTASI
Upaya Penggalian Potensi Investasipun secara kontinyu senantiasa dilakukan pula oleh Pemerintah Kota Semarang melalui penyusunan dokumen-dokumen ilmiah, misalnya : Profil Aset Pemerintah Kota Semarang, Data Profil Investasi Kota Semarang, Profil Kota Semarang, Selayang Pandang Kota Semarang, Menuju Kota Metropolitan yang Religius Berbasis Perdagangan dan Jasa, Laporan Studi Investasi Potensi Peluang Investasi di Wilayah Gunungpati Kota Semarang, Potensi Investasi Kota Semarang, Studi Identifikasi Potensi dan Peluang Investasi di Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang – Profil Kota Semarang Menyongsong Indonesia Baru, Kajian Sumber Daya yang Terkait dengan Investasi dan Atlas Potensi Ekonomi Semarang Metropolitan 2007.
Sementara itu, upaya Pameran atau Expo untuk mempromosikan peluang investasi baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional, selalu dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang. Untuk tingkat lokal, Pemerintah Kota Semarang secara kontinyu mengikuti Lawang Sewu Tourism Industry Expo, Semarang Fair, Mega Jateng Fair, Gebyar Wisata Nusantara dan Pameran Lopaid "PIKK". Di tingkat nasional Pemerintah Kota Semarang senantiasa berkiprah di Pameran INACRAFT, Pameran INDOCRAFT, Pameran PRODUK EXPORT, Pameran ICRA dan Pameran CENTRAL JAVA BUSINESS EXPO yang kesemuanya diselenggarakan di Jakarta setiap tahun. Selain itu ada Pameran PRODUK EXPORT di Yogyakarta, BALIKPAPAN EXPO di Balikpapan, Pameran PRODUK EXPORT di Pontianak dan BATAM EXPO di Batam. Di tingkat Internasionalpun, Pemerintah Kota Semarang juga telah berkiprah yaitu antara lain di Malaysia dan pada saat pagelaran Semarang Pesona Asia.
Kebijakan yang dapat mendukung investasi terus diupayakan melalui pengadaan ruang display atau pamer potensi dan produk unggulan daerah, ruang data dan informasi investasi serta penyelenggaraan transaksi bisnis interaktif, Semarang Business Forum (SEMBIZ) yang diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2007. Di samping itu, Pemerintah Kota Semarang senantiasa mendesain sarana promosi investasi seperti Website Pelayanan Perijian Kota Semarang (www.pptsp.com), Kerjasama Regional antar kota (Kedungsepur) dan Kerjasama dengan Pemerintah Luar Negeri, yaitu Kerjasama Sister City dengan Kota Brisbane, Australia, Kerjasama Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Kota Kitakyushu, Jepang, Kerjasama Sister City dengan Kota Beihai, China dan Kerjasama Sister City dengan Kota Fuzhou, China.
FAKTOR PENDUKUNG INVESTASI
Sebagai kota pro investasi, Semarang sebenarnya memiliki segala yang dibutuhkan untuk berinvestasi. Mulai dari tenaga kerja, sarana komunikasi, sarana transportasi, tenaga listrik sampai air bersih. Pada bidang Tenaga Kerja, misalnya kota Semarang memiliki SDM yang trampil dan siap pakai, adanya Balai-Balai Latihan Kerja, upah buruh yang relatif masih murah dan tersedianya data tenaga kerja melalui Sistem On Line di Disnakertrans Kota Semarang.
Di Bidang Sarana Komunikasi, kota Semarang memiliki sambungan telepon yang menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan industri. Di Bidang Sarana Transportasi Darat, kota Semarang telah mampu menyediakan kualitas dan akses jalan di semua wilayah. Sementara itu, di Bidang Tenaga Listrik, telah tersedia fasilitas listrik untuk semua wilayah di Kota Semarang. Di Bidang Transportasi Non Darat, kondisi jalan sangat memadai serta tersedianya semua sarana transportasi untuk menunjang investasi di Kota Semarang. Dan di bidang Air Bersih, telah tersedia berbagai alternatif sumber air yang cukup dan merata di semua wilayah yang dapat mempermudah investor untuk mengembangkan investasinya di Kota Semarang.
KINERJA INVESTASI
Kinerja Investasi dapat diukur dari kemampuan kegiatan investasi dalam menyerap tenaga kerja di kota Semarang. Pada tahun 2007, kinerja investasi di kota Semarang tercatat sebanyak 19 perusahaan dengan modal sebesar kurang lebih 1,06 trilyun rupiah dan mampu menyerap 3.957 orang tenaga kerja. Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Semarang juga memfasilitasi 3 perusahaan dengan modal sebesar 133 milyar rupiah dan mampu menyerap 620 orang tenaga kerja.
Mencermati data-data tersebut, di masa yang akan datang prospek investasi di Kota Semarang akan semakin "cerah", karena sebut saja ada lima aset Pemerintah Kota Semarang yang akan dikerjasamakan dengan investor, yang antara lain meliputi GOR Tri Lomba Juang, Pasar Johar, Pasar Ngaliyan, Pasar Rejomulyo dan TPI Tambaklorok dengan total nilai investasi kurang lebih 1,7 trilyun rupiah
Dengan tersedianya data tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan, upah buruh yang relatif murah, tenaga kerja yang selalu siap pakai sesuai dengan kebutuhan perusahaan, tersedianya pelayanan Perijinan dalam Satu Pintu, tersedianya Kawasan-Kawasan Industri untuk lokasi investasi dan sudah disyahkan dalam Peraturan Daerah dan kebijakan Tata Ruang untuk kepastian hukum sudah dituangkan dalam Peraturan Daerah RDTRK dan RTRW, maka tidak berlebihan kalau kota Semarang menggantungkan harapan sebagai penyandang gelar kota yang paling "ramah" investasi di masa yang akan datang.
Rabu, 17 September 2008
INFRASTRUKTUR INVESTASI KOTA SEMARANG
Sebagai statement pembangunan, Pemerintah Kota Semarang memiliki visi mewujudkan Kota Metropolitan Religius yang berbasis perdagangan dan jasa. Suatu tujuan yang definitive dan spesifik dengan 4 kata kunci, yaitu Metropolitan, Religius, Perdagangan dan Jasa.
Kata Metropolitan, merupakan statement mengenai format atau konsep fisik kota Semarang yang mengacu atau berorientasi pada bentuk kota metropolis yang memiliki beragam warna dengan bertumpu pada fasilitas ssosial maupun fasilitas teknis yang modern. Sementara itu, kata religius merupakan statement moral yang menggambarkan konsep psikologis Kota Semarang yang mengacu pada nilai-nilai agamis dimana seluruh pertimbangan yang berkaitan dengan pengembangan kota, akan selalu dilandasi pada nilai-nilai luhur yang didapatkan oleh berbagai agama yang ada dan berkembang di Kota Semarang. Perpaduan dua kata kunci tersebut menghasilkan statement psikologis kota yang berimbang dari segi fisik amupun psikologis, sehingga diharapkan mampu mengarahkan perkembangan kea rah kota besar yang memiliki masyarakat yang sehat, tidak seperti halnya kota-kota besar yang pada umumnya menjadi kota besar dengan memarjinalisasi, ataupun mengesampingkan masyarakatnya, sehingga akhirnya menghasilkan kota besar dengan kondisi psikologis masyarakat yang "sakit".
Sementara perdagangan dan jasa, merupakan statement teknis yang menggambarkan aktifitas utama yang berlangsung di Kota Semarang. Artinya, dari hari ke hari dan waktu ke waktu, senantiasa terjadi aktifitas perdagangan dan jasa di Kota Semarang, sebagai "bahan bakar utama" dari Kota Semarang. Sebagai aktifitas utama dari Kota Semarang, maka Pemerintah Kota semarang merancang konsep pengembangan kota yang tidak hanya dititikberatkan pada aktifitas perdagangan maupun jasa secara langsung, namun juga pada tahapan-tahapan pra maupun fasilitas pendukung dari kegiatan perdagangan dan jasa.
Adapun upaya-upaya tersebut dituangkan ke dalam 2 prinsip utama, yaitu : Mempersiapkan Kota Semarang sebagai kota pro investasi dan mengembangkan infrastuktur yang mendukung upaya-upaya investasi. Mengapa investasi ? Sebagai kota metropolitan yang berbasis pada aktifitas perdagangan dan jasa, Kota Semarang tidak dapat mengandalkan semata-mata pada aktifitas perdagangan dan jasa konvensional. Artinya, konsep perdagangan dan jasa yang merupakan "mesin utama" yang menghidupkan Kota Semarang seyogyanya lebih dititikberatkan pada aktifitas perdagangan dan jasa modern yang tidak terbatas pada pertukaran komoditas riil, seperti jual beli barang atau pemanfaatan jasa, akan tetapi juga dikembangkan pada aktifitas jual beli capital atau modal atau pemanfaatan jasa yang berkaitan langsung dengan bidang usaha keuangan, baik yang berskala regional maupun internasional.
Untuk mendukung, upaya peningkatan penanaman modal di Kota Semarang, sebagai regulator dari kehidupan ekonomi, Pemerintah Kota Semarang seyogyanya merancang berbagai kebijakan yang mendukung, secara langsung maupun tidak langsung kemudahan dalam berinvestasi di Kota Semarang. Seperti halnya best practice yang dapat dicermati di kawasan Asia Tenggara, misalnya di Vietnam, maka hal mendasar dari upaya peningkatan investasi adalah deregulasi ataupun simplikasi ataupun kemudahan dalam bidang perijinan. Hal ini berkaitan erat dengan prinsip investasi atau penanaman modal yang merupakan upaya mobilisasi dana atau modal dari suatu tempat ke tempat tujuan.
Adanya mobilisasi atau pergerakan dana itu membutuhkan kemampuan penanganan dokumen administrasi yang rumit dan birokratis, terlebih-lebih apabila mobilisasi tersebut melibatkan unsur waktu dan ruang yang panjang. Oleh karena itu, apabila prinsip mobilisasi tersebut dapat ditekan sedemikian rupa, maka secara logis upaya investasi tidak akan mengalami kendala berarti, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan penanganan dokumen administrasi, sehingga di satu sisi upaya penanaman modal dapat dilakukan secara rapi dan dapat dipertanggungjawabkan secara hokum.
Bicara masalah deregulasi perijinan di Kota Semarang, maka dimulai pada pra penyelenggaraan Semarang Pesona Asia (SPA) 2007, Pemerintah Kota Semarang telah meluncurkan Pusat Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) yang menerapkan sistem pelayanan perijinan yang dilakukan dengan lebih mudah, lebih cepat dan lebih murah.
Dengan diberlakukan sistem OSS, maka proses perijinan diharapkan dapat dilewati dengan mudah, karena permohonan ijin tidak membutuhkan pengetahuan khusus seperti sebelumnya, karena seluruh kegiatan pemprosesan ijin, apabila dikaitkan dengan investasi hanya dilakukan di satu unit kerja, sehingga pemohon tidak perlu berhubungan dengan unit kerja teknis yang berwenang untuk mendapatkan surat-surat ijin, terlebih-lebih apabila pemohon tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai struktur pemerintahan Kota Semarang.
Sistem ini tentu saja mampu memangkas waktu perijinan, karena apabila sebelumnya diperlukan mobilisasi data dan dokumen yang ulang-alik, rumit dan birokratis, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan surat ijin, apalagi apabila diperlukan koordianasi diantara unit-unit kerja yang berwenang terhadap perijinan dalam satu unit kerja, maka waktu yang dibuthkan untuk memobilisasi data dan dokumen dari satu unit kerja ke unit kerja yang lain dapat dikurangi, bahkan dapat dihilangkan, karena semuanya dilakukan di tempat yang sama. Akhirnya, biaya yang dibutuhkan untuk mengelola perijinanpun akhirnya juga dapat ditekan, karena batas ruang dan waktu yang sebelumnya muncul dalam kaitannya dengan mobilisasi data dan dokumen dapat dikurangi, sehingga pada akhirnya mengurangi biaya dan efisiensi.
Di samping menyususn kebijakan yang mempermudah investasi, Pemerintah Kota Semarang seyogyanya juga harus menyiapkan infrastruktur yang dapat mendukung peningkatan investasi. Oleh karena upaya investasi sangat erat kaitannya dengan mobilisasi, baik dana maupun komoditas, maka infrastruktur vital yang harus mendapat perhatian khusus adalah sarana dan prasarana transportasi, baik darat, laut, maupun udara yang dapat mengurangi ruang dan waktu, sehingga dapat meningkatkan keyakinan para pelaku investasi, khususnya pada pelaku investasi yang bertaraf internasional.
OSS DAN INFRASTRUKTUR INVESTASI
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, untuk mewujudkan Kota Metropolitan Religius yang Berbasis Perdagangan dan Jasa, maka harus mampu meningkatkan investasi di Kota Semarang. Hal ini berkaitan erat dengan sendi kehidupan ekonomi Kota Semarang yang sangat bergantung pada aktifitas perdagangan dan jasa. Sementara itu, sebagai kota metropolitan, semarang tidak hanya bertumpu pada aktifitas perdagangan dan jasa konvensional yang semata-mata berkutat pada aktifitas jual beli, baik barang maupun jasa. Seiring dengan perkembangan jaman, maka aktifitas perdagangan dan jasa tidak hanya terbatas pada komoditas riil saja, karena pada akhirnya komoditas yang diperjual belikan juga meliputi komoditas non riil, seperti modal dan capital.
Oleh karena itu, ada dua hal penting yang harus dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan aktifitas investasi, yaitu merancang kebijakan pemerintah yang dapat memberikan kemudahan untuk berinvestasi dan pengembangan infrastruktur kota yang mendukung aktifitas investasi atau penanaman modal, baik secara langsung maupun tidak langsung.
ONE STOP SERVICE
Untuk kawasan Asia maupun Asia Tenggara, maka upaya peningkatan investasi dapat dilihat dari segi best practices di dua Negara yaitu Cina dan Vietnam, yang mampu meningkatkan nilai investasi dalam tempo waktu yang singkat. Di dua Negara tersebut, upaya peningkatan investasi dapat dicapai dengan cara merancang kebijakan perijinan yang member kemudahan kepada para pelaku investasi, baik yang berskala regional maupun internasional.
Di kota Semarang hal tersebut telah dirintis sejak bulan Agustus tahun 2007, saat menjelang pagelaran internasional SPA 2007. Pada saat itu diluncurkan sisitem pengelolaan perijinan One Stop Service (OSS) yang merupakan sistem perijinan yang lebih cepat, lebih murah dan lebih baik dari sistem sebelumnya dan diharapkan mampu meningkatkan upaya perdagangan dan jasa, khususnya yang berkaitan erat dengan aktifitas investasi.
OSS pada prinsipnya merupakan sistem dimana mekanisme perijinan keseluruhan prosesnya dilakukan di satu unit kerja yang disebut Pusat Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP). Apabila sebelumnya dikenal sistem Pelayanan Satu Atap, namun proses selanjutnya tetap dilakukan di unit-unit kerja terpisah yang tidak terintegrasi dan tidak terkoordinasisatu sama lain, sehingga justru tidak mempermudah proses perijinan, namun justru memperpanjang proses dan menimbulkan prinsip ekonomi biaya tinggi.
Di terapkannya sistem OSS, memungkinkan mekanisme perijinan dilakukan melalui satu pintu yang digunakan untuk mengajukan permohonan, sekaligus menerima produk perijinan yang berupa dokumen-dokumen perijinan yang seluruhnya berjumlah 52 jenis, baik perijinan maupun non perijinan. Hal ini dimungkinkan, karena pada OSS, seluruh unit kerja yang memiliki kewenangan perijinan terintegrasi dalam unit kerja PPTSP yang berada di bawah Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Pemberdayaan BUMD dan Aset Daerah (BKPM PB & A) Kota Semarang, sehingga proses mobilisasi data dan dokumen yang sebelumnya harus melewati lalu lintas yang rumit, panjang dan birokratis dapat dipangkas sedimikian rupa, sehingga menghasilkan produk mekanisme perijinan yang efisien dari segi waktu, biaya dan pelayanan.
Kedepan, mekanisme ini akan terus ditingkatkan dengan memanfaatkan berbagai kemajuan di bidang teknologi, khususnya dibidang teknologi informasi, seperti yang telah diterapkan di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah yang berhasil menerapkan sistem mobilisasi data dan dokumen secara elekronik, sehingga pelayanan perijinan dapat dilakukan dengan sangat cepat dan murah, karena mobilisasi dokumen dari satu proses ke proses berikutnya hanya dilakukan dengan menggunakan data-data meupun dokumen yang telah diubah menjadi data maupun dokumen elektronik, bukan lagi data ataupun berkas dokumen kertas yang membutuhkan waktu dan ruang yang cukup besar. Disampin itu, pemanfaatan teknologi informasi dan jaringan komputer perijinan dapat menekan biaya produksi secara signifikan, karena denag sendirinya akan terjadi efisisensi yang tinggi, khususnya dalam hal biaya yang berkaitan erat dengan pengelolaan data dan berkas dokumen yang bersifat Hard Copy. Adapun data ataupun berkas dokumen hanya akan ditemui pada hasil akhir ataupun produk jadi dari keseluruhan proses perijinan, yaitu penerbitan dokumen perijinan itu sendiri.
Dengan konsep OSS, beserta pengembangannya tersebut, maka Kota Semarang diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada para pelaku investasi, dimana pada akhirnya nanti akan meningkatkan nilai investasi di Kota Semarang.
INFRASTRUKTUR INVESTASI
Disamping kebijakan pemerintah Kota Semarang yang memberikan kemudahan bagi para pelaku investasi, maka tidak kalah penting untuk meningkatkan investasi adalah ketersediaan infrastruktur kota yang mendukung secara langsung maupun tidak langsung upaya peningkatan investasi. Infrastruktur yang secara tidak langsung sangat berkaitan erat dengan upaya peningkatan nilai investasi adalah sarana dan prasarana transportasi, karena pada dasarnya, investasi sangat berkaitan erat dengan upaya mobilisasi capital atau modal dari satu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang prima dari sarana transprotasi , baik transportasi darat, laut maupun udara untuk menekan kesenjangan ruang dan waktu dari para pelaku investasi dengan asset mereka yang berada di Kota Semarang.
Di samping sarana transportasi, ketersediaan kawasan industri juga sangat dibutuhkan, karena dengan skema investasi pada aktivitas perdagangan dan jasa, maka banyak industri yang tumbuh akan berorientasi pada aktifitas ekspor atau pengiriman komoditas ke luar negeri. Adanya pemberlakuan peraturan yang bersifat internasional bagi pengiriman komoditas ke luar negeri menimbulkan desakan kebutuhan yang tinggi akan kawasan-kawasan industri, khususnya yang menerapkan sistem berikat atau bonded zone, dimana komoditas yang akan dikirim di luar negeri cukup diproses secara administratif didalam kawasan industri untuk siap dikirim ke negara tujuan, tanpa harus melewati verifikasi administrasi lagi di tempat lain di luar kawasan tersebut.
Sarana Transportasi
Meskipun terdapat 3 moda transportasi yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan, yaitu transportasi darat, laut dan udara, transportasi laut nampaknya merupakan moda primadona bagi aktivitas perdagangan internasional, karena dianggapa sebagai moda transportasi yang paling ekonomis. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang telah mulai mencermati upaya pengembangan pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.
Selama ini, Tanjung Mas sebenarnya telah melayani rute perdagangan internasional, namun seiring berjalannya waktu, infrastuktur yang tersedia pada pelabuhan tersebut dianggap sudah tidak memadai lagi. Khususnya pada keterbatasan kemampuan pelabuhan untuk kepentingan sandar kapal-kapal kargo internasional ukuran besar yang melayani transaksi impor maupun ekspor. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang dengan melibatkan PT. Pelindo dan seluruh stakeholders transportasi laut berupaya melakukan pengembangan pelabuhan denagn memajukan dermaga ± 1 km, sehingga mampu melayani kepentingan sandar kapal-kapal kargo besar yang selama ini hanya dapat dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta ataupun Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Di samping itu, dengan rencana pengembangan pelabuhan, diharapkan masyarakat dan lingkungan sosial di wilayah pelabuhan juga dapat merasakan dampak positif keberadaan pelabuhan, karena dengan meningkatkan aktifitas perdagangan internasional di pelabuhan, maka dengan sendirinya wilayah pelabuhan yang selama ini kurang dapat merasakan dampak positif keberadaan pelabuhan juga dapat ikut mengecap keuntungan dari dampak peningkatan aktifitas perdagangan internasional yang berlangsung di pelabuhan.
Kawasan Industri
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, aktifitas perdagangan ekspor maupun impor mendapat perlakuan yang cukupat secara internasional, oleh sebab itu, para pelaku industri yang memiliki orientasi ekspor maupun impor sangat membutuhkan adanya kawasan industri berikat atau bonded industrial zone yang memiliki kewenangan untuk menangani masalah administrasi ekspor maupun impor dari dalam kawasan, tanpa harus melewati proses administrasi tambahan lagi di luar kawasan.
Untuk itu, telah dirancang pembangunan kawasan industri dengan luas ± 5.000 ha di wilayah Sayung, Kabupaten Demak dan Kabupaten Kendal, Propinsi Jawa Tengah. Rencana ini diintegrasikan dengan rencana pengembangan Pelabuhan Laut Tanjung Mas yang telah dibahas sebelumnya. Dengan dimajukannya dermaga pelabuhan Tanjung
Mas, maka dermaga pelabuhan akan semakin mendekati wilayah Kabupaten Demak dan Kabupaten Kendal. Di kedua wilayah tersebut, nantinya akan dibangun bonded industrial zone yang memberlakukan satu pintu masuk maupun keluar yang dapat langsung mengakses Pelabuhan Tanjung Mas Semarang yang jaraknya semakin dekat, akibat majunya dermaga.
Pada pintu tersebut nantinya juga akan dibangun berbagai fasilitas pendukung, seperti pasar tradisional, pasar modern seperti mall atau pertokon, perkantoran, sekolah dan tempat hiburan untuk mengakomodasi kepentingan ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah sekitar pelabuhan maupun wilayah sekitar Kabupaten Demak dan Kabupaten Kendal. Di samping itu, wilayah tersebut juga akan dibangun rumah susun yang ditujukan bagi kepentingan pekerja yang sebagian besar aktifitas kerjanya berlangsung di Pelabuhan Tanjung Mas ataupun Bonded Industrial Zone.
Kerjasama Regional
Rencana pengembangan yang telah dibahas sebelumnya telah menyebutkan dua kabupaten yang merupakan hinterland (wilayah pendukung) bagi Kota Semarang, yaitu Kabupaten Demak dan Kabupaten Kendal. Secara formal, kedua wilayah tersebut telah memiliki kerjasama resmi dalam bidang pemerintahan dengan Kota Semarang dalam bentuk kerjasama resmi Kendal, Demak, Ungaran, Semarang dan Purwodadi (Kedungsepur). Namun dengan rencana tersebut, maka kerjasama resmi bidang pemerintahan yang selama ini telah dilakukan nampaknya harus dikembangkan lagi ke arah yang lebih fungsional, salah satunya adalah kerjasama peningkatan investasi dalam hal pengembangan Pelabuhan Tanjung Mas dan pembangunan Bonded Industrial Zone di kedua wilayah tersebut.
Namun, kerjasama resmi antar wilayah Kota Semarang tidak hanya Kedungsepur, karena Kota Semarang juga tercatat pada kerjasama regional Yogyakarta, Solo, Semarang (Joglosemar). Kesemua kerjasama regional tersebut seyogyanya dapat dioptimalkan, tidak sebatas pada kerjasama organisasi pemerintahan saja, namun juga kerjasama yang bersifat fungsional dalam bidang peningkatan aktifitas perdagangan, seperti misalnya Kota Semarang yang sudah kekurangan lahan industri dapat bekerjasama dengan wilayah lain dalam kerjasama regional Kedungsepur maupun Joglosemar dalam hal penyediaan lahan kawasan industri yang diintegrasikan dengan Pelabuhan Tanjung Mas ataupunBandara Internasional Ahmad Yani yang berada di Kota Semarang, sehingga kerjasama yang terwujud tidak semata-mata bersifat formal, namun juga bersifat fungsional yang timbul dari adanya rasa saling membutuhkan di antara wilayah yang tergabung dalam beberapa kerjasama regional.
Selasa, 16 September 2008
SUATU HARI
Bagaimana kalau apa?
Bilamana kalau kapan?
Bagaimana bila denting, gemerincing dan dentuman bukanlah apa-apa?
Bagaimana bila detik-detik begitu penat menekan?
Bagaimana bila semua nada, rima, syair begitu memuakkan, tengik ...
Di paruh jalan purnama ...
Saat ramadhan memanggil ...
Saat di paruh jalan ...
Menuju ied ...
Saat nista nestapa, salah dan dosa, amarah dan benci
Semestinya tiada, semestinya nisbi, semestinya sunyi, semestinya nihil
Marah aku ...
Geram aku ...
Nanar aku ...
Namun penat aku ...
Namun jenuh aku ...
Muak aku ...
Akhirnya ...
Terdiam aku ...
Bertanya ...
Bagaimana begitu berat suatu hari ...
Bagaimana begitu penat suatu hari ...
Bagaimana begitu laknat suatu hari ...
Namun aku salah ...
Manusialah yang penat
Dan ...
Manusialah yang laknat ...