Jumat, 19 September 2008

CITA RASA BARU SEMARANG PESONA ASIA

Semarang Pesona Asia (SPA) merupakan city branding ataupun upaya pencitraan Kota Semarang yang coba ditanamkan di kota Semarang sendiri dan disosialisasikan secara nasional dan internasional, paling tidak untuk kawasan Asia. SPA mulai diperkenalkan oleh Pemerintah Kota Semarang pada bulan Agustus 2007, di hadapan Presiden RI dan kurang lebih Duta Besar negara asing dari seluruh penjuru dunia.

Konsepsi dasar dari penyelenggaraan SPA pada prinsipnya merupakan mixture atau perpaduan antara promosi investasi dan promosi potensi Kota Semarang. Pola pikir yang digunakan adalah, upaya investasi atau penanaman modal adalah upaya yang tujuan utamanya adalah menarik modal ke kota Semarang agar secara "tidak langsung" dapat mendukung pertumbuhan kota, baik secara fisik maupun mental. Untuk mendukung upaya tersebut, maka Pemerintah Kota Semarang melibatkan seluruh potensi kota untuk turut serta memberi kontribusi dalam bentuk added value pada potensi maupun peluang investasi di kota Semarang.

Sementara itu, bidang investasi sendiri menjadi pilihan utama, karena di era penyelenggaraan good governance yang lebih mengedepankan prinsip "steering rather than rowing", institusi pemerintahan cenderung mendudukkan diri sebagai fasilitator maupun fasilitator upaya pembangunan dengan masyarakat atau institusi non pemerintahan sebagai pemeran utamanya. Bidang investasi memberikan peluang yang sangat besar kepada pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam berperan dalam pembangunan, baik dalam bentuk investasi langsung dalam kerjasama pengelolaan aset pemerintah, ataupun sebagai fasilitator dan mediator bagi pemilik modal dengan berbagai potensi kota Semarang.

Di bidang pemanfaatan aset pemerintah – pun, Pemerintah Kota Semarang dapat mengefisienkan anggaran, di mana biaya pengelolaan dan pemeliharaan aset pada umumnya relatif besar dengan hasil yang tidak sepadan, maka dengan upaya investasi yang ideal, aset pemerintah dapat dioptimalkan, sehingga dapat mendatangkan income bagi pemerintah dan added value bagi masyarakat, sekaligus mengefisienkan anggaran secara signifikan.

Di samping itu, di sisi sosial, sebagian besar upaya investasi juga mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang relatif besar (sampai Tahun 2007, ± 3.957 tenaga kerja), sehingga secara tidak langsung juga dapat meningkatkan pendapatan perkapita yang pada akhirnya juga mempengaruhi peningkatan indeks perekonomian kota secara makro. Singkatnya, bidang investasi merupakan upaya pembangunan yang, saat ini, dinilai paling mungkin dan paling signifikan dalam menimbulkan multiplier effect, baik dari segi ekonomi maupun sosial.


SEMARANG PESONA ASIA 2009 DAN 2010

Pada tahun 2007, city branding Semarang Pesona Asia (SPA) atau secara internasional, diterjemahkan menjadi Semarang, The Beauty of Asia. Sampai dengan pelaksanaan pada Bulan Mei tahun 2008, belum dilakukan segmentasi dan fragmentasi khusus pada kampanye city branding SPA.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang mulai menentukan fragmentasi SPA di masa yang akan datang. Fragmentasi dalam terminologi promotion campaign, sangat penting, karena dengan penentuan segmen pasar dan penentuan tema maupun sub tema, maka perhitungan waktu, biaya dan tenaga dapat dilakukan seefisien mungkin dengan estimasi hasil yang seefektif mungkin.

Prinsipnya, daripada harus mengeluarkan biaya promosi dan publikasi besar yang ditujukan kepada audiens yang besar dengan hasil yang tidak sepadan, lebih baik membatasi biaya promosi dan publikasi kepada audiens yang kecil, namun mampu menghasilkan keuntung ekonomis dan sosial yang signifikan bagi kota Semarang. Namun, penentuan segmentasi dan fragmentasi – pun harus dilakukan dengan cara yang komprehensif. Artinya, perlu disusun skala prioritas dari titik berat pelaksanaan SPA sesuai dengan laporan pelaksanaan SPA sebelumnya. Dengan demikian, maka segmen dan fragmen yang dipilih untuk pelaksanaan SPA selanjutnya benar-benar tepat sasaran dan mampu mendorong peningkatan upaya penanaman modal pada bidangnya masing-masing.

Meningkatnya minat wisatawan lokal maupun internasional terhadap kota Semarang yang dapat dilihat pada pertumbuhan pembangunan hotel berbintang di kota Semarang tiga tahun ke depan, menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata merupakan bidang yang layak untuk diprioritaskan. Oleh karena itu, maka penyelenggaraan SPA tahun 2009 dan 2010 lebih diutamakan pada promosi investasi di bidang pariwisata.

Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Kota Semarang telah menentukan Tema atau Tag Line penyelenggaraan SPA 2009 dan 2010, yaitu : "VISIT SEMARANG YEAR 2010". Secara umum penyelenggaraan SPA 2009 dan 2010 tidak banyak berbeda dengan apa yang pernah dilakukan pada tahun 2007 dan 2008, namun secara khusus SPA 2009 dan 2010 akan menitikberatkan pada peningkatan jumlah pengunjung kota Semarang yang diprioritaskan pada kunjungan wisata, di samping kunjungan lain di luar tujuan wisata.

Secara khusus, Semarang Business Forum (Sem'Biz), forum investasi interaktif se – Jawa Tengah yang selalu diselenggarakan dalam SPA akan dititikberatkan pada transaksi investasi pada bidang usaha pariwisata, setelah pada tahun sebelumnya mampu membukukan transaksi investasi sebesar 10,1 trilyun rupiah yang sebagian besar pada bidang infrastruktur.

Di samping itu, upaya tersebut juga akan didukung dengan program promosi pariwisata yang serentak dan terpadu dari tahun 2009 sampai 2010. Semua usaha dan pelaku pariwisata kota Semarang, termasuk warga kota Semarang akan menyelenggarakan program promosi dalam waktu bersamaan. Secara terpadu, seluruh usaha dan pelaku pariwisata akan diarahkan untuk menyelenggarakan program promosi yang saling mendukung satu sama lain agar dapat memberikan kemasan wisata yang bercitarasa internasional, paling tidak di level Asia.

KOTA SEMARANG MENUJU PRO INVESTASI

Setelah sempat "terpental" dari peringkat 10 besar Kota Pro Investasi, alias kota yang dinilai "ramah" kepada para penanaman modal, Kota Semarang tahun ini berhasil mendudukkan diri di peringkat Juara Harapan I. Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dalam rangka peringatan Hari Jadi Propinsi Jawa Tengah itu, tahun ini berhasil diraih oleh Pemerintah Kota Surakarta yang dinilai oleh juri yang terdiri dari pelaku usaha dan akademisi sebagai kota yang paling "ramah" terhadap investasi.

Satu lagi prestasi membanggakan bagi warga kota Semarang. Namun, terminologi investasi atau penanaman modal bukanlah merupakan istilah populer di telinga kita. Apalagi dengan komponen-komponen utamanya. Namun, hal ini tentu saja dapat dimaklumi, mengingat penghargaan di bidang investasi tidak "seawam" penghargaan Adipura yang berkaitan dengan kebersihan kota.

Tidak populer bukan berarti tidak penting. Justru banyak kota maju yang salah satu komponen kemajuannya ditentukan dari tingkat keberhasilan investasinya. Logikanya, apabila dana investasi atau penanaman modal yang murni berasal dari warga masyarakat ataupun sumber dana lain Non APBD, maka dapat dipastkan bahwa pembangunan kota dapat dilakukan tanpa harus menggantungkan diri pada pemerintah semata-mata.

Di samping itu, investasi merupakan salah satu geliat ekonomi yang paling mampu menimbulkan multiplier effect, selain aktifitas ekonomi lainnya. Bagaimana tidak, apabila sebuah perusahaan mendirikan pabrik, maka selain akan menyerap angkatan kerja, maka akan terjadi peningkatan nilai ekonomis aset. Belum lagi, meningkatnya cash flow, yang dapat menguntungkan lembaga-lembaga keuangan.

Namun, apapun alasan, hipotesa ataupun postulat yang telah dibeberkan sebelumnya belum cukup memberi acknowledgement, bagi "kita", warga kota yang awam terhadap terminologi investasi. Apa yang membuat kita dinilai sebagai Juara Harapan I untuk kota yang "ramah" investasi? What have we do to deserve it? Begitu mungkin, pertanyaan besar kita.

Untuk itu, masyarakat harus tahu, bahwa penghargaan yang lebih dikenal sebagai Pro Investasi Award itu bukan datang dengan sendirinya alias taken for granted, sehingga kita tidak merasakan betapa pentingnya masalah investasi bagi kota tercinta kita. Untuk memberi gambaran jelas mengenai hal itu, maka kita seyogyanya mengetahui Kebijakan Pemerintah Kota Semarang yang berkaitan erat dengan upaya "ramah" Investasi.

One Stop Service (OSS)

OSS atau Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan sistem pelayanan perijinan yang singkatnya dimulai di satu kantor dan diselesaikan di kantor yang sama pula, tanpa harus melalui birokrasi yang panjang dan "berliku". Pengertian tersebut saat ini juga masih ditambah dengan faktor kecepatan waktu pelayanan yang ditetapkan dalam peraturan khusus yang disebut Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Dukungan Kepala Daerah dalam hal ini sangat vital, oleh karena itu mulai tanggal 1 Agustus 2007 Walikota Semarang telah mendelegasikan wewenang penandatanganan 52 jenis Perijinan dan Non Perijinan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemberdayaan BUMD & Aset Daerah (BKPM PB & A) Kota Semarang melalui SK Walikota Semarang No. 875.1/216. Beberapa jenis perijinanpun "digratiskan" agar dapat mempermudah upaya peningkatan pelayanan perijinan, misalnya ijin lokasi, ijin prinsip, SIUP dan ijin-ijin kesehatan.

Dari segi teknologi, pelayanan perijinan kota Semarang telah memanfaatkan kecanggihan Teknologi Informasi (TI). Pada anggaran tahun inipun aspek TI pelayanan perijinan dikembangkan sedemikian rupa untuk "memanjakan" masyarakat pemohon ijin, sehingga pelayanan perijinan nantinya akan dapat diakses masyarakat cukup dengan layanan pesan singkat (SMS).

DPRD Kota Semarangpun tidak mau ketinggalan dalam mendukung OSS melalui penyiapan Peraturan Daerah tentang Penanaman Modal di Kota Semarang dan Peraturan Daerah mengenai Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu, agar pelayanan perijinan mendapat jaminan hukum yang lebih pasti.

KEBIJAKAN PENDUKUNG INVESTASI

Upaya Penggalian Potensi Investasipun secara kontinyu senantiasa dilakukan pula oleh Pemerintah Kota Semarang melalui penyusunan dokumen-dokumen ilmiah, misalnya : Profil Aset Pemerintah Kota Semarang, Data Profil Investasi Kota Semarang, Profil Kota Semarang, Selayang Pandang Kota Semarang, Menuju Kota Metropolitan yang Religius Berbasis Perdagangan dan Jasa, Laporan Studi Investasi Potensi Peluang Investasi di Wilayah Gunungpati Kota Semarang, Potensi Investasi Kota Semarang, Studi Identifikasi Potensi dan Peluang Investasi di Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang – Profil Kota Semarang Menyongsong Indonesia Baru, Kajian Sumber Daya yang Terkait dengan Investasi dan Atlas Potensi Ekonomi Semarang Metropolitan 2007.

Sementara itu, upaya Pameran atau Expo untuk mempromosikan peluang investasi baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional, selalu dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang. Untuk tingkat lokal, Pemerintah Kota Semarang secara kontinyu mengikuti Lawang Sewu Tourism Industry Expo, Semarang Fair, Mega Jateng Fair, Gebyar Wisata Nusantara dan Pameran Lopaid "PIKK". Di tingkat nasional Pemerintah Kota Semarang senantiasa berkiprah di Pameran INACRAFT, Pameran INDOCRAFT, Pameran PRODUK EXPORT, Pameran ICRA dan Pameran CENTRAL JAVA BUSINESS EXPO yang kesemuanya diselenggarakan di Jakarta setiap tahun. Selain itu ada Pameran PRODUK EXPORT di Yogyakarta, BALIKPAPAN EXPO di Balikpapan, Pameran PRODUK EXPORT di Pontianak dan BATAM EXPO di Batam. Di tingkat Internasionalpun, Pemerintah Kota Semarang juga telah berkiprah yaitu antara lain di Malaysia dan pada saat pagelaran Semarang Pesona Asia.

Kebijakan yang dapat mendukung investasi terus diupayakan melalui pengadaan ruang display atau pamer potensi dan produk unggulan daerah, ruang data dan informasi investasi serta penyelenggaraan transaksi bisnis interaktif, Semarang Business Forum (SEMBIZ) yang diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2007. Di samping itu, Pemerintah Kota Semarang senantiasa mendesain sarana promosi investasi seperti Website Pelayanan Perijian Kota Semarang (www.pptsp.com), Kerjasama Regional antar kota (Kedungsepur) dan Kerjasama dengan Pemerintah Luar Negeri, yaitu Kerjasama Sister City dengan Kota Brisbane, Australia, Kerjasama Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Kota Kitakyushu, Jepang, Kerjasama Sister City dengan Kota Beihai, China dan Kerjasama Sister City dengan Kota Fuzhou, China.

FAKTOR PENDUKUNG INVESTASI

Sebagai kota pro investasi, Semarang sebenarnya memiliki segala yang dibutuhkan untuk berinvestasi. Mulai dari tenaga kerja, sarana komunikasi, sarana transportasi, tenaga listrik sampai air bersih. Pada bidang Tenaga Kerja, misalnya kota Semarang memiliki SDM yang trampil dan siap pakai, adanya Balai-Balai Latihan Kerja, upah buruh yang relatif masih murah dan tersedianya data tenaga kerja melalui Sistem On Line di Disnakertrans Kota Semarang.

Di Bidang Sarana Komunikasi, kota Semarang memiliki sambungan telepon yang menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan industri. Di Bidang Sarana Transportasi Darat, kota Semarang telah mampu menyediakan kualitas dan akses jalan di semua wilayah. Sementara itu, di Bidang Tenaga Listrik, telah tersedia fasilitas listrik untuk semua wilayah di Kota Semarang. Di Bidang Transportasi Non Darat, kondisi jalan sangat memadai serta tersedianya semua sarana transportasi untuk menunjang investasi di Kota Semarang. Dan di bidang Air Bersih, telah tersedia berbagai alternatif sumber air yang cukup dan merata di semua wilayah yang dapat mempermudah investor untuk mengembangkan investasinya di Kota Semarang.

KINERJA INVESTASI

Kinerja Investasi dapat diukur dari kemampuan kegiatan investasi dalam menyerap tenaga kerja di kota Semarang. Pada tahun 2007, kinerja investasi di kota Semarang tercatat sebanyak 19 perusahaan dengan modal sebesar kurang lebih 1,06 trilyun rupiah dan mampu menyerap 3.957 orang tenaga kerja. Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Semarang juga memfasilitasi 3 perusahaan dengan modal sebesar 133 milyar rupiah dan mampu menyerap 620 orang tenaga kerja.

Mencermati data-data tersebut, di masa yang akan datang prospek investasi di Kota Semarang akan semakin "cerah", karena sebut saja ada lima aset Pemerintah Kota Semarang yang akan dikerjasamakan dengan investor, yang antara lain meliputi GOR Tri Lomba Juang, Pasar Johar, Pasar Ngaliyan, Pasar Rejomulyo dan TPI Tambaklorok dengan total nilai investasi kurang lebih 1,7 trilyun rupiah

Dengan tersedianya data tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan, upah buruh yang relatif murah, tenaga kerja yang selalu siap pakai sesuai dengan kebutuhan perusahaan, tersedianya pelayanan Perijinan dalam Satu Pintu, tersedianya Kawasan-Kawasan Industri untuk lokasi investasi dan sudah disyahkan dalam Peraturan Daerah dan kebijakan Tata Ruang untuk kepastian hukum sudah dituangkan dalam Peraturan Daerah RDTRK dan RTRW, maka tidak berlebihan kalau kota Semarang menggantungkan harapan sebagai penyandang gelar kota yang paling "ramah" investasi di masa yang akan datang.