Kilat sebetulnya. Karena ada satu teman yang memprovokasi, disambut seorang teman lagi, lalu kemudian saya follow up. Dan, tiba-tiba, VOILA! Seperti mantra ajaib pesulap, pertemuan yang dihadiri 35 orang tersebut terlaksana dengan segala riuh rendahnya.
Uniknya, salah satu teman akrab saya semasa SMP sempat paranoid karena long term memory lostnya. Bukannya apa-apa, dia sempat kebingungan waktu melihat “kloter” pertama peserta reuni, karena dia betul-betul clueless mengenai tampang-tampang yang pastinya sangat berbeda dengan 21 tahu yang lalu.
Seperti belum cukup shocking, saya yang hanya kebagian buntut dari seluruh ulah provokatif teman-teman saya dan harus memberanikan diri duduk di depan meja panjang yang dipenuhi puluhan orang yang belum tentu masih mengenal saya, baik secara karakter maupun fisik. Tugas saya-pun tidak kalah seram, menggulirkan topik serius di tengah riuh rendah lelucon masa SMP dulu.
Dengan seadanya saya memulai topik diskusi mengenai network atau jaringan atau jejaring. Ngawur! Begitu pikir saya dalam hati. Memangnya ada apa dengan network? Latarbelakang saya sebagai sarjana komunikasi hanya menyisakan terminologi network, jaringan atau jejaring sebagai turunan dari teori sistem. Di dalam sistem sosial ditemukan keberaturan yang disebut cybernetics. Sibernetika, saat ini menjadi istilah dahsyat yang dapat kita dengar dalam komunitas sosialite dunia maya, meskipun mungkin hanya diambil penggalan depan katanya saja. Cyber.
Mulanya saya ragu untuk meneruskan topik ini, karena bayangan benda-benda asing yang bakal beterbangan ke arah saya, seperti gambaran seorang standup comic yang gagal memuaskan audiens, buru-buru saya tepis. Bukankah “provokator” pertama perhelatan kangen-kangenan di antara teman sekolah ini dimulai dengan mesin sosial atau social engine yang bernama Facebook atau lebih beken disebut FB?
Semakin yakin saya, ketika beberapa orang di baris paling depan manggut-manggut, entah paham maksud saya atau hanya sekedar bersikap sopan agar saya cepat-cepat mundur, sehingga mereka bisa segera melakukan sesi foto. Ya betul! Tanpa kehadiran FB, saya haqqul yaqin kalau acara ini akan sangat sulit sekali terwujud. Bagaimana tidak, ada waktu 21 tahun lamanya dan mungkin ratusan kilometer jauhnya jarak yang memisahkan ke 35 orang yang hadir tersebut, akan tetapi dengan adanya FB, jarak, waktu dan ruang tidak jadi masalah penting lagi bagi kami yang hadir dan melepas rindu sejadi-jadinya satu sama lain.
Dua hari yang lalu, kata itu (network) kembali dikemukakan oleh salah satu teman masa SMA, yang akhir-akhir ini sering diskusi dengan saya. Kali ini dia menambahkan akhiran ing, sehingga kata itu menjadi networking.
Pada prinsipnya hampir sama saja dengan kata dasarnya, hanya kata ini lebih powerful dan aktif karena melibatkan effort atau usaha, karena terjemahan bebasnya menjadi upaya pembentukan jaringan atau jejaring. Saya jadi makin berpikir keras mengenai network, jaringan atau jejaring tadi. Sibernetika dalam terminologi disiplin ilmu komunikasi adalah suatu keteraturan yang tercipta dari adanya suatu sistem. Nah sibernetika atau keteraturan yang diciptakannya memungkinkan satu poin dengan poin lainnya, yang dalam hal ini manusia, terhubung antara satu dengan lainnya yang apabila digambarkan dalam diagram garis membentuk pola mirip jaring nelayan. Pola hubungan inilah yang kelak membentuk populasi homogen dengan variabel-variabel khususnya yang disebut komunitas.
Bingung? Wajar! Namun pada prinsipnya, FB, reuni merupakan cikal bakal dari terbentuknya komunitas dengan ciri-ciri khusus, misalnya komunitas alumni SMP seperti yang baru-baru saya hadiri atau komunitas alumni SMA seperti yang kami diskusikan malam itu.
Hebatnya, teman saya ini tidak hanya puas dengan kemudahan-kemudahan yang telah disediakan dunia cyber dalam memfasilitasi sentimentalitas manusia sedunia akan komunitas-komunitas yang paling khusus sampai ke yang paling umum. Teman saya ini bahkan ingin menambahkan nilai tambah pada network yang sudah terbentuk. Caranya, tentu saja dengan memobilisasi network atau bahkan komunitas ke arah kegiatan yang lebih “berisi”. Maksudnya tidak sekadar kangen-kangenan, ketawa-ketiwi atau photo session, tapi juga kegiatan-kegiatan yang social advance atau commercial advancenya dapat dimanfaatkan bersama oleh komunitas itu sendiri atau komunitas lain di seputar komunitas tadi.
Gagasan yang absurd mungkin. Tapi bukannya mustahil menurut saya. Bayangkan di tengah stigma kehidupan yang semakin sehari semakin individualistis dan egois, mesin sosial seperti FB tiba-tiba menyeret kita dari “posisi aman” di sudut rumah kita yang nyaman untuk kembali peduli pada teman SMP kita yang mungkin tergolek lemah karena penyakit kritisnya atau teman SMA kita yang karena penyakit yang dideritanya harus menjalani hidup sebagai seorang tuna netra di usia muda, namun tidak pernah mau menyerah pada kondisinya itu. Atau teman-teman yang entah kita kenal dimana yang telah lebih dulu meninggal.
Semangat, rasa penasaran saya semakin membuncah, ketika siang ini, di akhir rapat, teman saya, yang kebetulan juga kakak kelas saya saat SMP dan SMA menyampaikan pada saya, bahwa saat ini, dia yang berkecimpung di bidang software development telah menyelesaikan 60% tahapan pembuatan suatu software network engine yang salah satu semangatnya juga berasal dari kepeduliannya pada upaya reuni dan pembentukan network.
Saling bantu, saling tolong dan saling jaga! Begitu bilang teman saya soal motto almamaternya semasa kuliah mengenai komunitas alumni. Ini tentu saja tidak bisa dipadankatakan dengan istilah kolusi, korupsi dan nepotisme, karena ada moralitas di sana. Sementara, menurut hemat saya KKN merupakan upaya persekongkolan yang tidak punya moralitas dan didasari kepentingan sama yang sempit, yaitu uang, kekuasaan dan ketamakan. Sementara network terbangun dari compassion, caring dan responsibility, bagaimana tidak apabila hubungan kerjasama yang terjalin didasari dengan rasa peduli dan tanggungjawab pada sesama, setidaknya dengan sesama anggota komunitas.
Sesuatu hal yang umumnya terjadi pada alumnus universitas terkemuka dunia, seperti Cambridge, Oxford, Harvard yang hampir seluruh alumninya menduduki posisi penting pada pemerintahan maupun parlemen di AS dan Inggris. Namun, KKNkah mereka? Tidak!
Kembali pada FB dan network, saya jadi sangat menghargai dan memahami keinginan teman saya ini. Rupanya sudah lama juga, tepatnya 20 tahun lebih kita tidak pernah lagi peduli dengan orang lain. Dan selama itu pula kita lupa basis pelajaran ilmu sosial yang mengajarkan pada kita bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tak dapat hidup sendiri di planet ini. Dan selama itu pula kita agak lupa kodrat kita sebagai manusia.
Memoir ini tidak hanya saya tujukan untuk memprovokasi kepedulian atau mengusik “posisi aman” kehidupan, namun tulisan ini lebih ditujukan untuk mengingatkan saya, anda dan kalian bahwa above all, we all are human. Cheers!
Blogged with the Flock Browser