Detak detik
Hembus demi hembus
Helai demi helai
Gundah yang menggantung
Di tepi penghabisan malam
Penuh sesak oleh angan
Berat langkah menapak paruh hari
Asap perang tebal meliuk dibawa pusaran angin
Satu sisi gelap pekat yang lembut berarak-arak
Satu sisi silau diselimuti taburan debu merajam bola mata
Seorang laki-laki
Putra dunia yang pejal oleh amarah, serapah
Gusar oleh terik kemilau membias warna pelangi nan congkak
Terbuai asap membumbung berbau busuk nan lemah gemulai
Sang putra terus menapak memanjat terjal
Fana bebatuan yang berkeringat berselimutkan bau lembab tanah
Bergelut sang lelaki dalam liatnya kecamuk akal dan logika
Terperosok ia ke dalam sepuluh kaki kebodohan dan ketololan yang nan pongah
Dupakan kakinya mengiris horizon biru yang membumbung tanpa peri
Sang lelaki mengkais legamnya hati berbutir-butir yang jarinya menggapai-gapai rompalkan hari-hari demi hari yang nun jauh menapak kerlip bintang dan bulan
Perempuan di hatinya terbopong sebelah lengan kokoh kasar yang senantiasa mencekikkan kasih sayang yang egois
Pun kala gelap menangkup segala indra dari segala sensasi
Kecamuk perang bagai berbisik lirih
Menggeram terkadang berdehem lirih mengancam
Esok hari tatkala gelap lain berwujud dalam semburat
Tahulah ia…
Setiap detak
Pun setiap detik
Adalah setiap nafas
Dan setiap helai
Pantang mengalah ia pada terjal
Tersadarkah ia
Bahwa tiap liat kecamuk adalah kehidupan nan dicumbu
Ia akan berlalu dan selalu berwujud nan baru
January 1, 2009