Sabtu, 11 September 2010
Iedul Fitri Anger : Blues Untuk Joni Van Cikeas
Yes of course I'm pissed!!! Sebulan belakangan ini, dari kalangan berpendidikan tinggi sampai yang berpendidikan rendah, ramai-ramai berkomentar soal kasus "nation harrasment" Malaysia kepada bangsa kita, Indonesia. Mudah saja. Malaysia Salah! Malaysia Maling! Dan seterusnya...dan seterusnya...
Tapi demi Tuhan, posting ini bukan bermaksud membela Malaysia, terlebih-lebih mengamini sikap negara jiran yang menganggap kita hanya sebatas TKI, pembantu rumah tangga atau buruh bangunan kasar (Rossy Show dengan narasumber wartawan Malaysia). Tapi demi Tuhan juga, saya benar-benar mengutuk insiden meninggalnya Joni, warga sekitar Puri Cikeas yang mati terinjak-injak saat ingin bersalaman dengan Presiden SBY, saat acara Halal Bi Halal di kediaman pribadinya.
Saya berang membaca berita bahwa Presiden "hanya" mengirimkan "sumbangan" duka cita kepada keluarga almarhum Joni sebesar 10 juta rupiah. Joni yang menurut berita bukan dari keluarga berkecukupan, Joni yang dengan sukarela berdesak-desakan dengan Joni-Joni lainnya hanya untuk menyentuh tangan Presiden yang tanpa Joni-Joni itu tidak akan dapat menduduki jabatan Presiden, orang nomor satu di republik ini yang ternyata hanya menghargai rakyatnya sendiri, 10 juta rupiah!
So, don't talk to me about "nation harrasment" by Malaysian! In fact we already harrasted & mollisted our own nation! Jangan muluk-muluk. Jangan mimpi minta Malaysia atau negara lain menghargai bangsa kita, karena Presiden yang kita bangga-banggakan, yang mewakili kita di dunia internasional, hanya menghargai nyawa kita 10 juta rupiah. Others will respect us as much as we respect ourself & respect them. Orang lain akan menghargai kita sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri dan juga sebagaimana kita menghargai orang lain. Nah, kalau Presiden kita hanya menghargai rakyatnya hanya 10 juta rupiah, pastinya bangsa lain akan menghargai kita kurang dari itu. Belum lagi secara hirarkis gubernur hanya akan menghargai kita 1 juta rupiah, walikota 100 ribu rupiah, camat 10 ribu rupiah dan lurah seribu rupiah.
Ironis bukan? Renungkan sobat di suasana Iedul Fitri ini? Tidak usah terbang jauh-jauh ke Amerika hanya untuk mencaci John Terry karena rencananya membakar Qur'an atas rencana pembangunan mesjid di bekas lokasi WTC (tragedi 11 September). Di negeri kita saja, yang mayoritas warganya muslim, pemimpinnya jelas-jelas melecehkan dan menodai kesucian Iedul Fitri dengan menghargai nyawa warganya tidak lebih mahal dari harga seekor sapi!
Tapi demi Tuhan, posting ini bukan bermaksud membela Malaysia, terlebih-lebih mengamini sikap negara jiran yang menganggap kita hanya sebatas TKI, pembantu rumah tangga atau buruh bangunan kasar (Rossy Show dengan narasumber wartawan Malaysia). Tapi demi Tuhan juga, saya benar-benar mengutuk insiden meninggalnya Joni, warga sekitar Puri Cikeas yang mati terinjak-injak saat ingin bersalaman dengan Presiden SBY, saat acara Halal Bi Halal di kediaman pribadinya.
Saya berang membaca berita bahwa Presiden "hanya" mengirimkan "sumbangan" duka cita kepada keluarga almarhum Joni sebesar 10 juta rupiah. Joni yang menurut berita bukan dari keluarga berkecukupan, Joni yang dengan sukarela berdesak-desakan dengan Joni-Joni lainnya hanya untuk menyentuh tangan Presiden yang tanpa Joni-Joni itu tidak akan dapat menduduki jabatan Presiden, orang nomor satu di republik ini yang ternyata hanya menghargai rakyatnya sendiri, 10 juta rupiah!
So, don't talk to me about "nation harrasment" by Malaysian! In fact we already harrasted & mollisted our own nation! Jangan muluk-muluk. Jangan mimpi minta Malaysia atau negara lain menghargai bangsa kita, karena Presiden yang kita bangga-banggakan, yang mewakili kita di dunia internasional, hanya menghargai nyawa kita 10 juta rupiah. Others will respect us as much as we respect ourself & respect them. Orang lain akan menghargai kita sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri dan juga sebagaimana kita menghargai orang lain. Nah, kalau Presiden kita hanya menghargai rakyatnya hanya 10 juta rupiah, pastinya bangsa lain akan menghargai kita kurang dari itu. Belum lagi secara hirarkis gubernur hanya akan menghargai kita 1 juta rupiah, walikota 100 ribu rupiah, camat 10 ribu rupiah dan lurah seribu rupiah.
Ironis bukan? Renungkan sobat di suasana Iedul Fitri ini? Tidak usah terbang jauh-jauh ke Amerika hanya untuk mencaci John Terry karena rencananya membakar Qur'an atas rencana pembangunan mesjid di bekas lokasi WTC (tragedi 11 September). Di negeri kita saja, yang mayoritas warganya muslim, pemimpinnya jelas-jelas melecehkan dan menodai kesucian Iedul Fitri dengan menghargai nyawa warganya tidak lebih mahal dari harga seekor sapi!
Langganan:
Postingan (Atom)