Selasa, 29 Desember 2009
Senin, 21 Desember 2009
Jumat, 18 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Minggu, 13 Desember 2009
Rabu, 09 Desember 2009
Minggu, 06 Desember 2009
detikcom : DPRD Inhu Curiga AKP Tri Laksono Komsumsi Obat Terlarang
title : DPRD Inhu Curiga AKP Tri Laksono Komsumsi Obat Terlarang
summary : DPRD Inhu benar-benar berang terhadap Kasat Lantas Polres Inhu AKP Tri Laksono yang menyebut mereka sebagai anggota hewan. DPRD Inhu mencurigai, AKP Tri mengkonsumsi obat terlarang saat melakukan hal itu. (read more)
summary : DPRD Inhu benar-benar berang terhadap Kasat Lantas Polres Inhu AKP Tri Laksono yang menyebut mereka sebagai anggota hewan. DPRD Inhu mencurigai, AKP Tri mengkonsumsi obat terlarang saat melakukan hal itu. (read more)
Rabu, 02 Desember 2009
detikcom : Wakil Ketua DPD 1.000% Yakin Boediono & Sri Mulyani Tak Bersalah
title : Wakil Ketua DPD 1.000% Yakin Boediono & Sri Mulyani Tak Bersalah
summary : Penyebutan sejumlah nama yang dituding menerima aliran dana Bank Century belum tentu benar. Data yang dirilis itu perlu dipertanyakan kebenarannya karena tidak jelas dari mana sumbernya. (read more)
summary : Penyebutan sejumlah nama yang dituding menerima aliran dana Bank Century belum tentu benar. Data yang dirilis itu perlu dipertanyakan kebenarannya karena tidak jelas dari mana sumbernya. (read more)
Senin, 30 November 2009
detikcom : Wanita Muda Jatuh di Mal Grand Indonesia Saat Bergaya
title : Wanita Muda Jatuh di Mal Grand Indonesia Saat Bergaya
summary : Seseorang yang jatuh di eskalator Mal Grand Indonesia diketahui seorang wanita berusia muda. Dia jatuh menimpa eskalator dan langsung meninggal dunia. (read more)
summary : Seseorang yang jatuh di eskalator Mal Grand Indonesia diketahui seorang wanita berusia muda. Dia jatuh menimpa eskalator dan langsung meninggal dunia. (read more)
Selasa, 24 November 2009
detikcom : Jika Tak Segera Respons SBY, Citra Polri & Kejagung Kian Terpuruk
title : Jika Tak Segera Respons SBY, Citra Polri & Kejagung Kian Terpuruk
summary : Citra Kejagung dan Polri akan kian terpuruk bila tak bergegas merespons sikap Presiden SBY. Desakan publik akan semakin menguat. (read more)
summary : Citra Kejagung dan Polri akan kian terpuruk bila tak bergegas merespons sikap Presiden SBY. Desakan publik akan semakin menguat. (read more)
Senin, 23 November 2009
detikcom : Kapolri Dapat Info Mentah, Anak Buah Harus Ditegur
title : Kapolri Dapat Info Mentah, Anak Buah Harus Ditegur
summary : Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada keluarga Nurcholish Madjid karena salah mengaitkan nama Cak Nur dalam kasus Chandra M Hamzah. Kesalahan itu diduga Kapolri mendapatkan informasi tidak akurat dari anak buahnya. Sanksi harus dijatuhkan. (read more)
summary : Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada keluarga Nurcholish Madjid karena salah mengaitkan nama Cak Nur dalam kasus Chandra M Hamzah. Kesalahan itu diduga Kapolri mendapatkan informasi tidak akurat dari anak buahnya. Sanksi harus dijatuhkan. (read more)
Minggu, 22 November 2009
Selasa, 17 November 2009
detikcom : Tim Pembela Cak Nur Resmi Ajukan Somasi
title : Tim Pembela Cak Nur Resmi Ajukan Somasi
summary : Kapolri� dinilai menyepelekan tuntutan keluarga dan pendukung (Alm) Nurcholis Madjid. Untuk itu, tim pembela resmi mengajukan somasi yang harus dipenuhi dalam waktu 3x24 jam. (read more)
summary : Kapolri� dinilai menyepelekan tuntutan keluarga dan pendukung (Alm) Nurcholis Madjid. Untuk itu, tim pembela resmi mengajukan somasi yang harus dipenuhi dalam waktu 3x24 jam. (read more)
Jumat, 06 November 2009
detikcom : Menebak Air Mata Susno
title : Menebak Air Mata Susno
summary : Komjen Pol Susno Duadji menangis. Di hadapan jutaan mata rakyat Indonesia, pria yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi pusat cercaan ini akhirnya menunjukkan sisi manusianya, menitikkan air mata. Polisi juga manusia. (read more)
summary : Komjen Pol Susno Duadji menangis. Di hadapan jutaan mata rakyat Indonesia, pria yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi pusat cercaan ini akhirnya menunjukkan sisi manusianya, menitikkan air mata. Polisi juga manusia. (read more)
Kamis, 05 November 2009
Minggu, 01 November 2009
detikcom : Saat PC Berasa Mac
title : Saat PC Berasa Mac
summary : Apa jadinya kalau para jagoan Hackintosh di negeri ini berkumpul. Sebuah komputer personal (PC) rakitan pun dijejali Snow Leopard sebagai sistim operasinya. Wow, sebuah PC rasa Mac. (read more)
summary : Apa jadinya kalau para jagoan Hackintosh di negeri ini berkumpul. Sebuah komputer personal (PC) rakitan pun dijejali Snow Leopard sebagai sistim operasinya. Wow, sebuah PC rasa Mac. (read more)
detikcom : Rapat Presiden dengan Sejumlah Tokoh Berlangsung Tertutup
title : Rapat Presiden dengan Sejumlah Tokoh Berlangsung Tertutup
summary : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang sejumlah tokoh untuk membahas soal penahanan dua Wakil Ketua KPK nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Rapat ini berlangsung tertutup dan wartawan tidak diizinkan meliput. (read more)
summary : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang sejumlah tokoh untuk membahas soal penahanan dua Wakil Ketua KPK nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Rapat ini berlangsung tertutup dan wartawan tidak diizinkan meliput. (read more)
Senin, 26 Oktober 2009
Minggu, 25 Oktober 2009
Rabu, 14 Oktober 2009
Selasa, 23 Juni 2009
INDUSTRI KREATIF DAN TREN INVESTASI
Pada penghargaan Kota Pro Investasi Tahun 2008 Propinsi Jawa Tengah, ada sesuatu yang menarik dari statement Walikota Solo, sang peringkat pertama Kota Pro Investasi Jawa Tengah. Walikota muda itu menyatakan bahwa sebagian besar jenis investasi yang “moncer” di kota yang ia pimpin berasal dari jenis industri kreatif.
Jenis industri apa pula itu, dalam hati saya. Bayangan saya sebelumnya, pasti industri yang erat kaitannya dengan industri hiburan. Tidak salah juga sebenarnya analisis itu, karena sebagai “hidangan utama” presentasi selama 10 menit lebih dipusatkan pada bagaimana sang Walikota menciptakan zona wisata kuliner Gladak Langen Bogan atau yang populer disebut Galabo.
Istilah industri kreatif kemudian saya dengar lagi ketika saya mengikuti rapat anggota jaringan City Net di Hotel Borobudur Jakarta pada akhir tahun 2008. Erna Witoelar yang menjadi penasihat organisasi jejaring kerjasama kota seluruh dunia untuk chapter Asia Pasifik itu mengemukakan mengenai model industri kreatif yang ia nilai berhasil di Tomohon, Gorontalo. Lalu apa gerangan jenis industri kreatif yang ia maksudkan? Ternyata, Tomohon yang waktu itu diwakili sendiri oleh Walikota yang kebetulan juga masih muda, memaparkan mengenai festival bunga tahunan yang juga berjaya dan diminati oleh para penanam modal.
Rasa penasaran saya akhirnya mengarahkan saya pada diskusi menarik dengan para peserta rapat saat itu mengenai definisi dari industri kreatif, khususnya yang bisa dikaitkan dengan upaya menggalakkan penanaman modal di daerah. Dari diskusi yang cukup “pejal dan berkeringat”, sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa industri kreatif adalah jenis industri yang tidak dapat dikategorikan secara konvensional dengan ukuran-ukuran ekonomis yang konvensional pula. Misalnya, pada investasi zona kuliner Galabo, secara real hanyalah berupa konsep zona kuliner yang tidak melibatkan unsur fisik sama sekali. Ya, hanya konsep dan privillege yang dimiliki pemerintah setempat yang kemudian dikerjasamakan dengan pemilik modal yang keuntungannya dishare antara pemerintah daerah dengan penanam modal.
Tentu berbeda jauh dengan konsep penanaman modal di bidang pemerintahan yang konvensional yang umumnya melibatkan aset pemerintah yang dikerjasamakan, baik dalam bentuk sewa, build operate transfer (BOT), kerjasama operasional (KSO) dan sebagainya. Konsep-konsep kerjasama tersebut sudah “tidak musim”, mengingat proses panjangnya yang harus melibatkan pihak legislatif dan tentu saja rawan penyimpangan, bahkan tidak jarang melibatkan “biaya-biaya siluman” yang lebih banyak merugikan investor daripada menguntungkan investor.
Konsep industri kreatif yang berhasil diterapkan Tomohon misalnya, tidak melibatkan satu aset pemerintah pun, sehingga kepentingan-kepentingan sempit yang sarat membungkus proses investasipun bisa diminimalisir. Di samping itu, proses penanaman modal konvensional yang harus melewati proses lelang layaknya pengadaan barang/ jasa pemerintah dapat lebih diefisienkan, bagaimana tidak, jenis industri yang hanya berupa konsep, ide dan privillege, meskipun harus melewatkan mekanisme pengumuman pelelangan, tetap saja sulit diterjemahkan oleh perusahaan investasi yang sekedar berlevel “broker”, karena seperti halnya jenis pengadaan jasa konsultansi, maka beauty contest, usulan teknis benar-benar dapat “memeras” peminat lelang hanya pada pelaku investasi yang tidak hanya siap dana, namun juga siap konsep. Dengan kata lain, faktor kesulitan dan kerumitan pada industri kreatif telah menciptakan mekanisme “seleksi alam” tersendiri yang akhirnya hanya menyisakan yang terbaik bagi peluang investasi pemerintah daerah.
Melihat banyaknya pemerintah daerah yang berhasil serta mendapat penghargaan atas keberaniannya mengembangkan industri kreatif sebagai primadona investasi yang mampu memobilisasi dana publik sebagai alternatif lain pembiayaan pembangunan daerah serta penciptaan lapangan kerja baru, nampaknya di masa yang akan datang pemerintah daerah harus mulai mengalihkan prioritas investasinya pada jenis industri ini. Untuk kota Semarang misalnya, pada perhelatan Semarang Business Forum (Sembiz) 2009 coba dijajaki fasilitasi pada proyek pengembangan piranti lunak business machine yang berbasis teknologi informasi komunikasi untuk memberi wadah komunikasi interaktif, wadah promosi dan juga wadah transaksi bisnis yang dilakukan di dunia maya secara cepat dan on line.
Gejala ini bukannya tanpa dampak, karena seperti umumnya investasi konvensional upaya ini harus diinterkoneksi pula dengan lingkungan strategis yang dimiliki masing-masing daerah. Solo misalnya, saat mewujudkan Galabo membutuhkan 60 kali pertemuan agar zona kuliner tradisional yang dimaksud benar-benar dapat menjadi ikon industri baru Solo, tidak sekedar menempel layaknya kain perca yang akan mengganggu planologi kota. Interkoneksi dengan lingkungan strategis juga diharapkan dapat menciptakan investasi yang sustainable dan self developed dengan intervensi pemerintah yang minimal dan pencemaran lingkungan yang minimal pula.
Akhirnya, apapun yang bisa menggerakkan perekonomian, baik sektor formal maupun informal memang “worth to try”, apalagi dengan ekses negatif yang minimal dan integritas yang tinggi. Mungkinkah ini merupakan “new breed” dari investasi di era informasi, era ide dan era konsep yang menafikan konsep ruang dan waktu yang sudah santa banal. Poor some water on it and seet it react!
Jenis industri apa pula itu, dalam hati saya. Bayangan saya sebelumnya, pasti industri yang erat kaitannya dengan industri hiburan. Tidak salah juga sebenarnya analisis itu, karena sebagai “hidangan utama” presentasi selama 10 menit lebih dipusatkan pada bagaimana sang Walikota menciptakan zona wisata kuliner Gladak Langen Bogan atau yang populer disebut Galabo.
Istilah industri kreatif kemudian saya dengar lagi ketika saya mengikuti rapat anggota jaringan City Net di Hotel Borobudur Jakarta pada akhir tahun 2008. Erna Witoelar yang menjadi penasihat organisasi jejaring kerjasama kota seluruh dunia untuk chapter Asia Pasifik itu mengemukakan mengenai model industri kreatif yang ia nilai berhasil di Tomohon, Gorontalo. Lalu apa gerangan jenis industri kreatif yang ia maksudkan? Ternyata, Tomohon yang waktu itu diwakili sendiri oleh Walikota yang kebetulan juga masih muda, memaparkan mengenai festival bunga tahunan yang juga berjaya dan diminati oleh para penanam modal.
Rasa penasaran saya akhirnya mengarahkan saya pada diskusi menarik dengan para peserta rapat saat itu mengenai definisi dari industri kreatif, khususnya yang bisa dikaitkan dengan upaya menggalakkan penanaman modal di daerah. Dari diskusi yang cukup “pejal dan berkeringat”, sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa industri kreatif adalah jenis industri yang tidak dapat dikategorikan secara konvensional dengan ukuran-ukuran ekonomis yang konvensional pula. Misalnya, pada investasi zona kuliner Galabo, secara real hanyalah berupa konsep zona kuliner yang tidak melibatkan unsur fisik sama sekali. Ya, hanya konsep dan privillege yang dimiliki pemerintah setempat yang kemudian dikerjasamakan dengan pemilik modal yang keuntungannya dishare antara pemerintah daerah dengan penanam modal.
Tentu berbeda jauh dengan konsep penanaman modal di bidang pemerintahan yang konvensional yang umumnya melibatkan aset pemerintah yang dikerjasamakan, baik dalam bentuk sewa, build operate transfer (BOT), kerjasama operasional (KSO) dan sebagainya. Konsep-konsep kerjasama tersebut sudah “tidak musim”, mengingat proses panjangnya yang harus melibatkan pihak legislatif dan tentu saja rawan penyimpangan, bahkan tidak jarang melibatkan “biaya-biaya siluman” yang lebih banyak merugikan investor daripada menguntungkan investor.
Konsep industri kreatif yang berhasil diterapkan Tomohon misalnya, tidak melibatkan satu aset pemerintah pun, sehingga kepentingan-kepentingan sempit yang sarat membungkus proses investasipun bisa diminimalisir. Di samping itu, proses penanaman modal konvensional yang harus melewati proses lelang layaknya pengadaan barang/ jasa pemerintah dapat lebih diefisienkan, bagaimana tidak, jenis industri yang hanya berupa konsep, ide dan privillege, meskipun harus melewatkan mekanisme pengumuman pelelangan, tetap saja sulit diterjemahkan oleh perusahaan investasi yang sekedar berlevel “broker”, karena seperti halnya jenis pengadaan jasa konsultansi, maka beauty contest, usulan teknis benar-benar dapat “memeras” peminat lelang hanya pada pelaku investasi yang tidak hanya siap dana, namun juga siap konsep. Dengan kata lain, faktor kesulitan dan kerumitan pada industri kreatif telah menciptakan mekanisme “seleksi alam” tersendiri yang akhirnya hanya menyisakan yang terbaik bagi peluang investasi pemerintah daerah.
Melihat banyaknya pemerintah daerah yang berhasil serta mendapat penghargaan atas keberaniannya mengembangkan industri kreatif sebagai primadona investasi yang mampu memobilisasi dana publik sebagai alternatif lain pembiayaan pembangunan daerah serta penciptaan lapangan kerja baru, nampaknya di masa yang akan datang pemerintah daerah harus mulai mengalihkan prioritas investasinya pada jenis industri ini. Untuk kota Semarang misalnya, pada perhelatan Semarang Business Forum (Sembiz) 2009 coba dijajaki fasilitasi pada proyek pengembangan piranti lunak business machine yang berbasis teknologi informasi komunikasi untuk memberi wadah komunikasi interaktif, wadah promosi dan juga wadah transaksi bisnis yang dilakukan di dunia maya secara cepat dan on line.
Gejala ini bukannya tanpa dampak, karena seperti umumnya investasi konvensional upaya ini harus diinterkoneksi pula dengan lingkungan strategis yang dimiliki masing-masing daerah. Solo misalnya, saat mewujudkan Galabo membutuhkan 60 kali pertemuan agar zona kuliner tradisional yang dimaksud benar-benar dapat menjadi ikon industri baru Solo, tidak sekedar menempel layaknya kain perca yang akan mengganggu planologi kota. Interkoneksi dengan lingkungan strategis juga diharapkan dapat menciptakan investasi yang sustainable dan self developed dengan intervensi pemerintah yang minimal dan pencemaran lingkungan yang minimal pula.
Akhirnya, apapun yang bisa menggerakkan perekonomian, baik sektor formal maupun informal memang “worth to try”, apalagi dengan ekses negatif yang minimal dan integritas yang tinggi. Mungkinkah ini merupakan “new breed” dari investasi di era informasi, era ide dan era konsep yang menafikan konsep ruang dan waktu yang sudah santa banal. Poor some water on it and seet it react!
Jumat, 03 April 2009
MEMOIR POST REUNI
Seminggu yang lalu saya mendapat pengalaman luar biasa. Bagaimana tidak, setelah 21 tahun terpisah, saya dan teman-teman sewaktu masa SMP dulu bisa bertemu lagi dalam acara reuni.
Kilat sebetulnya. Karena ada satu teman yang memprovokasi, disambut seorang teman lagi, lalu kemudian saya follow up. Dan, tiba-tiba, VOILA! Seperti mantra ajaib pesulap, pertemuan yang dihadiri 35 orang tersebut terlaksana dengan segala riuh rendahnya.
Uniknya, salah satu teman akrab saya semasa SMP sempat paranoid karena long term memory lostnya. Bukannya apa-apa, dia sempat kebingungan waktu melihat “kloter” pertama peserta reuni, karena dia betul-betul clueless mengenai tampang-tampang yang pastinya sangat berbeda dengan 21 tahu yang lalu.
Seperti belum cukup shocking, saya yang hanya kebagian buntut dari seluruh ulah provokatif teman-teman saya dan harus memberanikan diri duduk di depan meja panjang yang dipenuhi puluhan orang yang belum tentu masih mengenal saya, baik secara karakter maupun fisik. Tugas saya-pun tidak kalah seram, menggulirkan topik serius di tengah riuh rendah lelucon masa SMP dulu.
Dengan seadanya saya memulai topik diskusi mengenai network atau jaringan atau jejaring. Ngawur! Begitu pikir saya dalam hati. Memangnya ada apa dengan network? Latarbelakang saya sebagai sarjana komunikasi hanya menyisakan terminologi network, jaringan atau jejaring sebagai turunan dari teori sistem. Di dalam sistem sosial ditemukan keberaturan yang disebut cybernetics. Sibernetika, saat ini menjadi istilah dahsyat yang dapat kita dengar dalam komunitas sosialite dunia maya, meskipun mungkin hanya diambil penggalan depan katanya saja. Cyber.
Mulanya saya ragu untuk meneruskan topik ini, karena bayangan benda-benda asing yang bakal beterbangan ke arah saya, seperti gambaran seorang standup comic yang gagal memuaskan audiens, buru-buru saya tepis. Bukankah “provokator” pertama perhelatan kangen-kangenan di antara teman sekolah ini dimulai dengan mesin sosial atau social engine yang bernama Facebook atau lebih beken disebut FB?
Semakin yakin saya, ketika beberapa orang di baris paling depan manggut-manggut, entah paham maksud saya atau hanya sekedar bersikap sopan agar saya cepat-cepat mundur, sehingga mereka bisa segera melakukan sesi foto. Ya betul! Tanpa kehadiran FB, saya haqqul yaqin kalau acara ini akan sangat sulit sekali terwujud. Bagaimana tidak, ada waktu 21 tahun lamanya dan mungkin ratusan kilometer jauhnya jarak yang memisahkan ke 35 orang yang hadir tersebut, akan tetapi dengan adanya FB, jarak, waktu dan ruang tidak jadi masalah penting lagi bagi kami yang hadir dan melepas rindu sejadi-jadinya satu sama lain.
Dua hari yang lalu, kata itu (network) kembali dikemukakan oleh salah satu teman masa SMA, yang akhir-akhir ini sering diskusi dengan saya. Kali ini dia menambahkan akhiran ing, sehingga kata itu menjadi networking.
Pada prinsipnya hampir sama saja dengan kata dasarnya, hanya kata ini lebih powerful dan aktif karena melibatkan effort atau usaha, karena terjemahan bebasnya menjadi upaya pembentukan jaringan atau jejaring. Saya jadi makin berpikir keras mengenai network, jaringan atau jejaring tadi. Sibernetika dalam terminologi disiplin ilmu komunikasi adalah suatu keteraturan yang tercipta dari adanya suatu sistem. Nah sibernetika atau keteraturan yang diciptakannya memungkinkan satu poin dengan poin lainnya, yang dalam hal ini manusia, terhubung antara satu dengan lainnya yang apabila digambarkan dalam diagram garis membentuk pola mirip jaring nelayan. Pola hubungan inilah yang kelak membentuk populasi homogen dengan variabel-variabel khususnya yang disebut komunitas.
Bingung? Wajar! Namun pada prinsipnya, FB, reuni merupakan cikal bakal dari terbentuknya komunitas dengan ciri-ciri khusus, misalnya komunitas alumni SMP seperti yang baru-baru saya hadiri atau komunitas alumni SMA seperti yang kami diskusikan malam itu.
Hebatnya, teman saya ini tidak hanya puas dengan kemudahan-kemudahan yang telah disediakan dunia cyber dalam memfasilitasi sentimentalitas manusia sedunia akan komunitas-komunitas yang paling khusus sampai ke yang paling umum. Teman saya ini bahkan ingin menambahkan nilai tambah pada network yang sudah terbentuk. Caranya, tentu saja dengan memobilisasi network atau bahkan komunitas ke arah kegiatan yang lebih “berisi”. Maksudnya tidak sekadar kangen-kangenan, ketawa-ketiwi atau photo session, tapi juga kegiatan-kegiatan yang social advance atau commercial advancenya dapat dimanfaatkan bersama oleh komunitas itu sendiri atau komunitas lain di seputar komunitas tadi.
Gagasan yang absurd mungkin. Tapi bukannya mustahil menurut saya. Bayangkan di tengah stigma kehidupan yang semakin sehari semakin individualistis dan egois, mesin sosial seperti FB tiba-tiba menyeret kita dari “posisi aman” di sudut rumah kita yang nyaman untuk kembali peduli pada teman SMP kita yang mungkin tergolek lemah karena penyakit kritisnya atau teman SMA kita yang karena penyakit yang dideritanya harus menjalani hidup sebagai seorang tuna netra di usia muda, namun tidak pernah mau menyerah pada kondisinya itu. Atau teman-teman yang entah kita kenal dimana yang telah lebih dulu meninggal.
Semangat, rasa penasaran saya semakin membuncah, ketika siang ini, di akhir rapat, teman saya, yang kebetulan juga kakak kelas saya saat SMP dan SMA menyampaikan pada saya, bahwa saat ini, dia yang berkecimpung di bidang software development telah menyelesaikan 60% tahapan pembuatan suatu software network engine yang salah satu semangatnya juga berasal dari kepeduliannya pada upaya reuni dan pembentukan network.
Saling bantu, saling tolong dan saling jaga! Begitu bilang teman saya soal motto almamaternya semasa kuliah mengenai komunitas alumni. Ini tentu saja tidak bisa dipadankatakan dengan istilah kolusi, korupsi dan nepotisme, karena ada moralitas di sana. Sementara, menurut hemat saya KKN merupakan upaya persekongkolan yang tidak punya moralitas dan didasari kepentingan sama yang sempit, yaitu uang, kekuasaan dan ketamakan. Sementara network terbangun dari compassion, caring dan responsibility, bagaimana tidak apabila hubungan kerjasama yang terjalin didasari dengan rasa peduli dan tanggungjawab pada sesama, setidaknya dengan sesama anggota komunitas.
Sesuatu hal yang umumnya terjadi pada alumnus universitas terkemuka dunia, seperti Cambridge, Oxford, Harvard yang hampir seluruh alumninya menduduki posisi penting pada pemerintahan maupun parlemen di AS dan Inggris. Namun, KKNkah mereka? Tidak!
Kembali pada FB dan network, saya jadi sangat menghargai dan memahami keinginan teman saya ini. Rupanya sudah lama juga, tepatnya 20 tahun lebih kita tidak pernah lagi peduli dengan orang lain. Dan selama itu pula kita lupa basis pelajaran ilmu sosial yang mengajarkan pada kita bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tak dapat hidup sendiri di planet ini. Dan selama itu pula kita agak lupa kodrat kita sebagai manusia.
Memoir ini tidak hanya saya tujukan untuk memprovokasi kepedulian atau mengusik “posisi aman” kehidupan, namun tulisan ini lebih ditujukan untuk mengingatkan saya, anda dan kalian bahwa above all, we all are human. Cheers!
Kilat sebetulnya. Karena ada satu teman yang memprovokasi, disambut seorang teman lagi, lalu kemudian saya follow up. Dan, tiba-tiba, VOILA! Seperti mantra ajaib pesulap, pertemuan yang dihadiri 35 orang tersebut terlaksana dengan segala riuh rendahnya.
Uniknya, salah satu teman akrab saya semasa SMP sempat paranoid karena long term memory lostnya. Bukannya apa-apa, dia sempat kebingungan waktu melihat “kloter” pertama peserta reuni, karena dia betul-betul clueless mengenai tampang-tampang yang pastinya sangat berbeda dengan 21 tahu yang lalu.
Seperti belum cukup shocking, saya yang hanya kebagian buntut dari seluruh ulah provokatif teman-teman saya dan harus memberanikan diri duduk di depan meja panjang yang dipenuhi puluhan orang yang belum tentu masih mengenal saya, baik secara karakter maupun fisik. Tugas saya-pun tidak kalah seram, menggulirkan topik serius di tengah riuh rendah lelucon masa SMP dulu.
Dengan seadanya saya memulai topik diskusi mengenai network atau jaringan atau jejaring. Ngawur! Begitu pikir saya dalam hati. Memangnya ada apa dengan network? Latarbelakang saya sebagai sarjana komunikasi hanya menyisakan terminologi network, jaringan atau jejaring sebagai turunan dari teori sistem. Di dalam sistem sosial ditemukan keberaturan yang disebut cybernetics. Sibernetika, saat ini menjadi istilah dahsyat yang dapat kita dengar dalam komunitas sosialite dunia maya, meskipun mungkin hanya diambil penggalan depan katanya saja. Cyber.
Mulanya saya ragu untuk meneruskan topik ini, karena bayangan benda-benda asing yang bakal beterbangan ke arah saya, seperti gambaran seorang standup comic yang gagal memuaskan audiens, buru-buru saya tepis. Bukankah “provokator” pertama perhelatan kangen-kangenan di antara teman sekolah ini dimulai dengan mesin sosial atau social engine yang bernama Facebook atau lebih beken disebut FB?
Semakin yakin saya, ketika beberapa orang di baris paling depan manggut-manggut, entah paham maksud saya atau hanya sekedar bersikap sopan agar saya cepat-cepat mundur, sehingga mereka bisa segera melakukan sesi foto. Ya betul! Tanpa kehadiran FB, saya haqqul yaqin kalau acara ini akan sangat sulit sekali terwujud. Bagaimana tidak, ada waktu 21 tahun lamanya dan mungkin ratusan kilometer jauhnya jarak yang memisahkan ke 35 orang yang hadir tersebut, akan tetapi dengan adanya FB, jarak, waktu dan ruang tidak jadi masalah penting lagi bagi kami yang hadir dan melepas rindu sejadi-jadinya satu sama lain.
Dua hari yang lalu, kata itu (network) kembali dikemukakan oleh salah satu teman masa SMA, yang akhir-akhir ini sering diskusi dengan saya. Kali ini dia menambahkan akhiran ing, sehingga kata itu menjadi networking.
Pada prinsipnya hampir sama saja dengan kata dasarnya, hanya kata ini lebih powerful dan aktif karena melibatkan effort atau usaha, karena terjemahan bebasnya menjadi upaya pembentukan jaringan atau jejaring. Saya jadi makin berpikir keras mengenai network, jaringan atau jejaring tadi. Sibernetika dalam terminologi disiplin ilmu komunikasi adalah suatu keteraturan yang tercipta dari adanya suatu sistem. Nah sibernetika atau keteraturan yang diciptakannya memungkinkan satu poin dengan poin lainnya, yang dalam hal ini manusia, terhubung antara satu dengan lainnya yang apabila digambarkan dalam diagram garis membentuk pola mirip jaring nelayan. Pola hubungan inilah yang kelak membentuk populasi homogen dengan variabel-variabel khususnya yang disebut komunitas.
Bingung? Wajar! Namun pada prinsipnya, FB, reuni merupakan cikal bakal dari terbentuknya komunitas dengan ciri-ciri khusus, misalnya komunitas alumni SMP seperti yang baru-baru saya hadiri atau komunitas alumni SMA seperti yang kami diskusikan malam itu.
Hebatnya, teman saya ini tidak hanya puas dengan kemudahan-kemudahan yang telah disediakan dunia cyber dalam memfasilitasi sentimentalitas manusia sedunia akan komunitas-komunitas yang paling khusus sampai ke yang paling umum. Teman saya ini bahkan ingin menambahkan nilai tambah pada network yang sudah terbentuk. Caranya, tentu saja dengan memobilisasi network atau bahkan komunitas ke arah kegiatan yang lebih “berisi”. Maksudnya tidak sekadar kangen-kangenan, ketawa-ketiwi atau photo session, tapi juga kegiatan-kegiatan yang social advance atau commercial advancenya dapat dimanfaatkan bersama oleh komunitas itu sendiri atau komunitas lain di seputar komunitas tadi.
Gagasan yang absurd mungkin. Tapi bukannya mustahil menurut saya. Bayangkan di tengah stigma kehidupan yang semakin sehari semakin individualistis dan egois, mesin sosial seperti FB tiba-tiba menyeret kita dari “posisi aman” di sudut rumah kita yang nyaman untuk kembali peduli pada teman SMP kita yang mungkin tergolek lemah karena penyakit kritisnya atau teman SMA kita yang karena penyakit yang dideritanya harus menjalani hidup sebagai seorang tuna netra di usia muda, namun tidak pernah mau menyerah pada kondisinya itu. Atau teman-teman yang entah kita kenal dimana yang telah lebih dulu meninggal.
Semangat, rasa penasaran saya semakin membuncah, ketika siang ini, di akhir rapat, teman saya, yang kebetulan juga kakak kelas saya saat SMP dan SMA menyampaikan pada saya, bahwa saat ini, dia yang berkecimpung di bidang software development telah menyelesaikan 60% tahapan pembuatan suatu software network engine yang salah satu semangatnya juga berasal dari kepeduliannya pada upaya reuni dan pembentukan network.
Saling bantu, saling tolong dan saling jaga! Begitu bilang teman saya soal motto almamaternya semasa kuliah mengenai komunitas alumni. Ini tentu saja tidak bisa dipadankatakan dengan istilah kolusi, korupsi dan nepotisme, karena ada moralitas di sana. Sementara, menurut hemat saya KKN merupakan upaya persekongkolan yang tidak punya moralitas dan didasari kepentingan sama yang sempit, yaitu uang, kekuasaan dan ketamakan. Sementara network terbangun dari compassion, caring dan responsibility, bagaimana tidak apabila hubungan kerjasama yang terjalin didasari dengan rasa peduli dan tanggungjawab pada sesama, setidaknya dengan sesama anggota komunitas.
Sesuatu hal yang umumnya terjadi pada alumnus universitas terkemuka dunia, seperti Cambridge, Oxford, Harvard yang hampir seluruh alumninya menduduki posisi penting pada pemerintahan maupun parlemen di AS dan Inggris. Namun, KKNkah mereka? Tidak!
Kembali pada FB dan network, saya jadi sangat menghargai dan memahami keinginan teman saya ini. Rupanya sudah lama juga, tepatnya 20 tahun lebih kita tidak pernah lagi peduli dengan orang lain. Dan selama itu pula kita lupa basis pelajaran ilmu sosial yang mengajarkan pada kita bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tak dapat hidup sendiri di planet ini. Dan selama itu pula kita agak lupa kodrat kita sebagai manusia.
Memoir ini tidak hanya saya tujukan untuk memprovokasi kepedulian atau mengusik “posisi aman” kehidupan, namun tulisan ini lebih ditujukan untuk mengingatkan saya, anda dan kalian bahwa above all, we all are human. Cheers!
Blogged with the Flock Browser
Sabtu, 21 Maret 2009
Kamis, 01 Januari 2009
DETAK-DETIK
Detak detik
Hembus demi hembus
Helai demi helai
Gundah yang menggantung
Di tepi penghabisan malam
Penuh sesak oleh angan
Berat langkah menapak paruh hari
Asap perang tebal meliuk dibawa pusaran angin
Satu sisi gelap pekat yang lembut berarak-arak
Satu sisi silau diselimuti taburan debu merajam bola mata
Seorang laki-laki
Putra dunia yang pejal oleh amarah, serapah
Gusar oleh terik kemilau membias warna pelangi nan congkak
Terbuai asap membumbung berbau busuk nan lemah gemulai
Sang putra terus menapak memanjat terjal
Fana bebatuan yang berkeringat berselimutkan bau lembab tanah
Bergelut sang lelaki dalam liatnya kecamuk akal dan logika
Terperosok ia ke dalam sepuluh kaki kebodohan dan ketololan yang nan pongah
Dupakan kakinya mengiris horizon biru yang membumbung tanpa peri
Sang lelaki mengkais legamnya hati berbutir-butir yang jarinya menggapai-gapai rompalkan hari-hari demi hari yang nun jauh menapak kerlip bintang dan bulan
Perempuan di hatinya terbopong sebelah lengan kokoh kasar yang senantiasa mencekikkan kasih sayang yang egois
Pun kala gelap menangkup segala indra dari segala sensasi
Kecamuk perang bagai berbisik lirih
Menggeram terkadang berdehem lirih mengancam
Esok hari tatkala gelap lain berwujud dalam semburat
Tahulah ia…
Setiap detak
Pun setiap detik
Adalah setiap nafas
Dan setiap helai
Pantang mengalah ia pada terjal
Tersadarkah ia
Bahwa tiap liat kecamuk adalah kehidupan nan dicumbu
Ia akan berlalu dan selalu berwujud nan baru
January 1, 2009
Hembus demi hembus
Helai demi helai
Gundah yang menggantung
Di tepi penghabisan malam
Penuh sesak oleh angan
Berat langkah menapak paruh hari
Asap perang tebal meliuk dibawa pusaran angin
Satu sisi gelap pekat yang lembut berarak-arak
Satu sisi silau diselimuti taburan debu merajam bola mata
Seorang laki-laki
Putra dunia yang pejal oleh amarah, serapah
Gusar oleh terik kemilau membias warna pelangi nan congkak
Terbuai asap membumbung berbau busuk nan lemah gemulai
Sang putra terus menapak memanjat terjal
Fana bebatuan yang berkeringat berselimutkan bau lembab tanah
Bergelut sang lelaki dalam liatnya kecamuk akal dan logika
Terperosok ia ke dalam sepuluh kaki kebodohan dan ketololan yang nan pongah
Dupakan kakinya mengiris horizon biru yang membumbung tanpa peri
Sang lelaki mengkais legamnya hati berbutir-butir yang jarinya menggapai-gapai rompalkan hari-hari demi hari yang nun jauh menapak kerlip bintang dan bulan
Perempuan di hatinya terbopong sebelah lengan kokoh kasar yang senantiasa mencekikkan kasih sayang yang egois
Pun kala gelap menangkup segala indra dari segala sensasi
Kecamuk perang bagai berbisik lirih
Menggeram terkadang berdehem lirih mengancam
Esok hari tatkala gelap lain berwujud dalam semburat
Tahulah ia…
Setiap detak
Pun setiap detik
Adalah setiap nafas
Dan setiap helai
Pantang mengalah ia pada terjal
Tersadarkah ia
Bahwa tiap liat kecamuk adalah kehidupan nan dicumbu
Ia akan berlalu dan selalu berwujud nan baru
January 1, 2009
Langganan:
Postingan (Atom)