Terik matahari jam 12 siang menampar punggungku, ketika untuk ketiga kalinya kaki ini menginjak Bandar Udara Hang Nadim, Batam. Setelah menunggu setengah jam dalam bosan, akhirnya kopor besar warna kunyit yang sudah tidak terlalu cerah lagi akibat tangan-tangan kasar portir bagian kargo maskapai penerbangan dapat saya ambil dari band berjalan yang terus berputar.
Arrival gate tidak terlalu jauh, dalam waktu 5 menit saya sudah terlibat pembicaraan “bisnis” dengan seorang supir taksi bandara. 50 ribu perak harus saya keluarkan untuk mengupahnya, apabila saya tidak mau berbagi taksi dengan orang lain dan memutuskan menggunakan argometer. Ya, seperti angkot, umpat dalam hati. Tapi terik siang yang melelahkan, membuat saya lebih rela kehilangan 50 ribu demi membeli privasi, sekaligus kesempatan bertanya-tanya pada si supir taksi asli Padang yang keramahannya cukup membayar rasa kesal karena harus merelakan 50 ribu rupiah pada menit-menit awal saya di Batam.
Jalan-jalan di Batam besar dan penataannya mengingatkan saya pada Singapura, negara yang hanya berjarak 45 menit pelayaran kapal ferry dari Batam. Bandara Hang Nadimpun sebagian besar dipadati turis Indonesia yang berniat melancong ke Singapura lewat jalur laut dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan apabila menggunakan jalur udara. Jalan mulai menyempit di pusat-pusat keramaian kota, seperti pada kawasan Nagoya yang terkenal dengan barang-barang dagangan bermerk mulai dari yang “paling” palsu sampai dengan yang sangat mirip dengan aslinya.
Jam tangan, tas, sepatu, dompet, kacamata, parfum dari merk-merk terkenal dapat didapatkan di Nagoya. Di sini jangan buru-buru terkesiap mendengar harga jutaan rupiah untuk setiap barang yang ditawarkan, karena kita boleh menawar sampai separuh harga. Semua harga relatif, tergantung seberapa gigih kita sanggup menawar. Bahkan, di toko Sarinah atau Diana yang melengkapi setiap produk yang dibeli dengan “sertifikat keaslian”, kita masih boleh menawar. Sayangnya suasana belanja terasa tidak nyaman dengan banyaknya pengemis anak-anak yang dengan “nasty” menguntit turis, bahkan dengan menyebalkannya mereka menyodok-nyodok dengan menggunakan formulir isian sumbangan usang yang sudah dilaminating, “kasih pak, kasih pak,” ceracau mereka seperti rekaman mp3 rusak.
Nafas kehidupan malam sangat pekat pada hotel-hotel, baik berbintang maupun tidak berbintang di seputar kawasan Nagoya. Hampir 24 jam kawasan ini berputar mengolah rupiah maupun dollar Singapura dari turis lokal maupun asing yang sengaja ingin mencicipi kehidupan malam ala Batam. Namun, meskipun masih berada di wilayah hukum Indonesia, perempuan-perempuan Cingko, sebutan perempuan penghibur Batam yang performa fisiknya sangat mirip dengan perempuan Cina akan pasang tarif rata-rata 300 dollar Singapura, baik pada turis lokal maupun asing. Sudah serasa di Singapura bukan? Bahkan, di kawasan “lampu merah” Geylang di Singapura, yang kebanyakan dihuni perempuan Thailand atau Vietnam, tarif yang ditawarkan “hanya” 50 dollar Singapura per setengah jam layanan.
Kengerian di Pulau Galang
Satu jam yang melelahkan ke arah Barat pulau Batam melewati Jembatan Barelang dan empat jembatan lainnya, Saya menuju pulau yang mulanya terpisah dari pulau Batam. Pulau kecil dengan luasan yang berkisar hanya ratusan hektar ini pada era 90an sempat digunakan untuk menampung pengungsi korban perang Vietnam yang dulu lebih dikenal sebagai “manusia perahu”. Konon pulau kecil ini dulu menampung kaum terpelajar Vietnam yang teraniaya dan diusir dari tanah airnya, karena kekejaman rezim komunis yang pada waktu itu berkuasa pasca kekalahan Amerika Serikat di kancah perang Vietnam. Pulau hijau itu sampai sekarang masih menyisakan keindahan hutan belukar, kontur yang variatif dan sebuah pagoda yang bertengger di puncak bukit pulau itu.
Tur yang penuh kesuraman dan kesedihan itu, hanya ditebus dengan 15 ribu rupiah apabila menggunakan mobil dan 5 ribu rupiah apabila menggunakan sepeda motor. Tak jauh dari pintu gerbang, kengerian akan penderitaan pengungsian dapat tergambar dari bangkai perahu-perahu kayu yang teronggok bagai monumen di sebuah taman yang begitu pilu, liar tak terpelihara. Berapa ribu kilometer penderitaan dan kesedihan yang harus dilewati untuk meminta belas kasihan dari bangsa lain, agar mereka dapat terhindar dari praktek genosida tanpa ampun di kampung halaman mereka sendiri. Sungguh kengerian yang tak berperi.
Dari jumlah bekas barak dan fasilitas umum, seperti rumah sakit, youth center, pemakaman sampai penjara, tampaknya mereka tidak hanya berpuluh, bahkan mungkin ratusan dan sempat beranak pinak di pulau ini sampai akhirnya didistribusikan ke negara-negara lain atau dikembalikan ke Vietnam oleh UNHCR, karena kondisi negara mereka yang dewasa ini termasuk yang paling pesat kemajuannya untuk ukuran Asia Tenggara. Suatu kebahagiaan ironik, mengingat mereka harus bersakit-sakit menumpang perahu kayu menuju Indonesia yang saat ini kondisinya justru tertinggal jauh oleh mereka.
Asing di Negeri Sendiri
Perut yang melilit karena lapar disertai mata yang berat digelayuti kantuk tak menahan saya untuk menempuh perjalanan darat selama satu jam ke arah timur pulau Batam menuju penyeberangan kapal yang membawa saya ke Pulau Bintan. Saya beruntung, tidak datang 5 atau 7 tahun sebelumnya, karena pada saat itu kemolekan Pulau Bintan, paling dekat hanya ditawarkan ke Singapura. Orang lokal seperti saya, harus mencarter kapal sendiri untuk dapat menyeberang. Sebagai gantinya saat ini, hanya 3 jadwal saja yang disediakan oleh pengelola pulau yang konon berasal dari Singapura, untuk melayani turis lokal. Jam 7.30, 14.30 dan 18.00. Selebihnya dipadati oleh kapal-kapal yang berasal dari Singapura.
Dari pelabuhan, di tengah dinginnya semilir angin pagi lautan. Setengah jam kemudian saya telah bersiap dalam sebuah life vest warna jingga untuk mengikuti wisata menyusuri hutan bakau menggunakan kapal kayu berkapasitas 10 orang. Menyusuri ratusan hektar hutan bakau, sang tour leader yang masih cukup muda akan menunjukkan bangkai kapal penambang pasir Singapura yang dulunya hilir mudik Batam – Singapura untuk mengambil pasir yang digunakan untuk memperluas daratan Negara Singapura yang luasnya tak seberapa itu. Sekarang butiran-butiran pasir itu sudah menjadi warga negara Singapura dan mengukuhkan daerah perkotaan modern baru di Singapura yang disebut Suntek City. Sebelum menuntaskan tur selama kurang lebih 1,5 jam, perahu kayu akan masuk di sela-sela kerimbunan hutan bakau di ujung timur. Ular, biawak, burung, tupai menjadi pemandangan luar biasa yang mengubah turis “lembek” serasa sebagai reporter senior National Geographic Chanel.
Satu jam dari hutan bakau ke arah utara, ada Pantai Mana-Mana yang mirip Pantai Kuta Bali minus sampah yang bertebaran di pantai. Pantai pasir putih nan bersih itu, sebenarnya membentang di sepanjang pulau Bintan, namun sayangnya hanya sekitar 100 sampai 200 meter saja yang bisa dinikmati oleh umum, karena selebihnya dijadikan kawasan pribadi oleh Bintan Laguna, hotel bintang lima yang paling ramai di sana. Kebanyakan hotel di sini selain menawarkan kamar, juga menawarkan villa yang berisi 4 kamar dengan rate kurang lebih 3 jutaan semalam dengan harga penawaran, apalagi kalau tidak dalam dollar Singapura. Hebatnya lagi, saya yang sempat 2 kali belanja suvenir di sini seringkali keliru disangka orang Malaysia atau orang Singapura, entah karena perawakan saya atau karena turis Indonesia dianggap tidak prospektif mengunjungi pulau ini.
Dininya keberangkatan membuat kondisi fisik melemah tajam, bahkan angin di perut telah menghambat suplai oksigen ke otak. Saya akhirnya memutuskan makan siang di Pasar Cenderamata atas saran local guide yang sangat mengerti betul kondisi kocek orang Indonesia, meskipun ia yang asli Medan lebih sering hidup di Singapura ketimbang di Indonesia. Betul saja, di resto seafood itu, saya disambut dalam sapaan bahasa Inggris yang ramah, karena bahasa pengantar di seluruh Bintan memang bahasa Inggris. Luar biasa, dengan menu ala carte Bintan Laguna, saya dapat menghemat kurang lebih 20 dollar Singapura, karena apabila tak sabar, bisa dipastikan saya harus membayar ongkos makan siang yang sama kurang lebih 40 dollar Singapura di resto Bintan Laguna. Sambil menyeruput teh botol dingin, saya memandangi rombongan turis entah dari Jepang entah dari Singapura yang sempat berpapasan saat berada di kolam renang Bintan Laguna sebelumnya, sekarang mereka baru hendak masuk resto tempat saya makan siang. Satu jam lagi saya kembali ke Batam, dengan perasaan campur aduk. Takjub dengan kemolekan pulau Bintan dan pantai Mana-Mana. Saya sekaligus mengumpat dalam hati, karena barusan si waitress Indonesia dengan fasih berkata, “Thank you sir, please welcome again.” “Terima kasih mbak, Saya orang Indonesia,” ujar saya yang memerah padamkan muka sang waitress yang buru-buru menyambung dengan bahasa Indonesia. Betapa terasingnya kita di negeri sendiri. Saya tiba-tiba jadi ingat anekdot teman saya, “jangan-jangan Batam lama-lama jadi salah satu kecamatannya Singapura lagi,” ujarnya sambil tersenyum kecut.